CORPS NEWS

FAKTUAL DAN BERIMBANG

SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG

KPK: Siapa Pun Penguasanya Pengusahanya Selalu Berselingkuh, Yang Ketangkep Itu Apes Aja

BAGIKAN :
1614385364957
GUBERNUR Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah (Tengah).* /Instagram @nurdin.abdullah

Corpsnews, Jakarta – Penangkapan  Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah menjadi perhatian serius dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebelum diciduk KPK, Nurdin dianggap kepala daerah yang bersih namun penangkapan tangkap tangan meruntuhkan anggapan tersebut.

Membincangkan kasus Nurdin Abdullah, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengatakan praktik korupsi dan suap memang sudah berkelindan di pemerintahan melibatkan penguasa dan pengusaha. Dia mengatakan apes saja mereka yang ketangkap KPK.

Korupsi gunung es, yang ketangkep apes saja

IMG 20200923 233259
Ilutrasi KPK Awasi

Nurul menjelaskan kepala daerah yang tersangkut korupsi atau suap menurutnya bukan lantaran ada penetrasi politik saja.

Loading...

Praktik culas di pemerintahan itu terjadi karena relasi penguasa dan pengusaha yang saling bekerja sama karena dorongan simbiosis mutualisme saling diuntungkan.

Sudah jamak diketahui, kata Nurul, penguasa butuh sokongan dana untuk menjaga elektoral politiknya sedangkan pengusaha butuh penguasa untuk memuluskan dan menjamin mendapatkan keistimewaan proyek pemerintahan.

Loading...

“Siapa pun penguasanya, maka pengusahanya selalu berselingkuh. kalau hanya penguasa (dilakukan pencegahan korupsi) tapi dunia bisnis tak ada pembenahan, ini akan tetap berlangsung. Dua ini simbiosis mutualisisme, penguasa memenuhi kebutuha elektoralnya mereka butuh dana, dan butuh relasi baik dengan pengusaha. Begitu sebaliknya,” jelas Nurul.

Namun demikian, faktanya Nurul menjelaskan, kasus korupsi yang tertangkap KPK itu menunjukkan fenomena gunung es. Artinya kasus korupsi aslinya lebih banyak yang berjalan namun tidak terdeteksiKPK saja.

“Jadi mereka yang ketangkep itu apes saja,” jelasnya dalam Kompas TV dikutip Senin 1 Maret 2021.

Loading...

Dalam kasus Nurdin Abdullah, yang merupakan kasus gratifikasi atau suap, Nurul mengatakan praktik pengadaan baang jasa memang menjadi salah satu celah yang dimainkan antara penguasa dan pengusaha.

Biasanya cara main di pengadaan barang jasa yakni pakai sistem ijon, jadi penyuap memberi uang lebih dulu atau sistem tanda terima kasih setelah mendapatkan proyek atau gratifikasi.

“Di izin SDA juga begitu (modusnya). Jadi ini bukan penyakit personal tapi sistemik,” jelasnya.

Nurdin Abdullah, KPK dan politik rusa

IMG 20210130 WA0049
Ilustrasi

Selain problem relasi penguasa dan pengusaha yang melahirkan modus korupsi dan suap, Nurul pun menyoalkan sistem politik yang melahirkan pemimpin dan penguasa atau kepala daerah.

Dengan sistem politik kini yang berbiaya tinggi, maka pemimpin yang muncul dari kompetisi dipertanyakan integritasnya lho.

Nurul menyadari pencegahan korupsi dari KPK tak akan efektif kalau hulunya nggak diperbaiki.

“Proses melahirkan pemimpin berintegritas sedang rusak oleh demokrasi. Mohon maaf yang tampil itu tinggal tunggu waktu untuk kembalikan modal saja. Akarnya kalau dari perspektif politik, sejauh ini politik kita biasa tinggi,” ujarnya.

KPK menangkap Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah terkait dugaan kasus tindak pidana korupsi, pada Jumat malam 26 Februari 2021. Berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah yang baru ditangkap KPK, tercatat memiliki total kekayaan Rp51.356.362.656.

Berdasarkan pengumuman LHKPN pada situs https://elhkpn.kpk.go.id, Nurdin terakhir melaporkan kekayaannya pada 29 April 2020 dengan jabatan sebagai Gubernur Sulsel.

Data harta Nurdin terdiri dari 54 tanah senilai Rp49.368.901.028 yang tersebar di Kota Makassar, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Soppeng, dan Kabupaten Bantaeng.

Selanjutnya, Nurdin juga tercatat memiliki satu unit mobil Toyota Alphard senilai Rp300 juta.

Ia juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp271,3 juta, kas dan setara kas Rp267.411.628 serta harta lainnya senilai Rp1,15 miliar.

Total harta Nurdin sebenarnya senilai Rp51.357.612.656, namun ia juga tercatat memiliki utang Rp1,25 juta. Dengan demikian total hartanya adalah Rp51.356.362.656.(hops)

Terbitkan Pada: 1 Maret 2021 by Corps News

BAGIKAN :
Loading...
TERIMA KASIH
TELAH MENGUNJUNGI CORPSNEWS
MEDIA FAKTUAL DAN BERIMBANG
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat