CORPS NEWS

FAKTUAL DAN BERIMBANG

SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG

Alumnus UGM Ini Kembali Layangkan Surat Terbuka Elektronik Terkait Kasus Kriminal Wartawan Malaka

BAGIKAN :
IMG 20210128 WA0009
Kondradus Yohanes Klau, S.Pd., M.Sc

Betun, 28 Januari 2021

 

Perihal:
Mempertanyakan Progres Penanganan Kasus Pengeroyokan Wartawan dan Pemimpin Redaksi Media Online gardamalaka.com Di Kabupaten Malaka

Loading...

Kepada Yth.
– Kepala Kepolisian Daerah NTT
– Kepala Kepolisian Republik Indonesia
– Ketua DPP PWOIN Jakarta
– Ketua DPP MIO Jakarta
– Pimpinan Dewan Pers Indonesia
– Pimpinan Komisi III DPR RI
– Ketua dan Wakil Ketua DPR RI
– Presiden Republik Indonesia

Masing-masing di Tempat.

Loading...

Salam Sejahtera.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa melidungi bapak/ibu dan seluruh komponen bangsa Indonesia, terutama di masa pandemi Covid-19 ini.

Perkenalkan, saya adalah Kondradus Yohanes Klau, S.Pd., M.Sc., seorang penulis aktif di berbagai media online dan cetak, pemerhati Pendidikan dan Demokrasi.

Bapak/Ibu terhormat…
Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 26 Oktober 2020, saya telah menuliskan sebuah Surat Terbuka yang disampaikan secara elektronik, melalui berbagai media online.

Loading...

Isi surat pertama saya saat itu adalah mempertanyakan sekaligus mengeluhkan lambannya proses penanganan Kasus Pengeroyokan Wartawan Media Online Gardamalaka.com yang terjadi pada 15 Oktober 2020.

Kepolisian Resor (Polres) Malaka sebagai pihak yang menangani terkesan lamban di kala itu. Alasannya, bahwa Malaka sedang dalam suasana menjelang Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.

Dengan alasan itu, kasus tersebut dilimpahkan Polres Malaka ke Direktorat Kriminal Umum (Dirkrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur, setelah sebelumnya dilakukan penetapan terhadap 3 (tiga) orang tersangka pengeroyokan.

Namun, hingga hari ini, Kamis (28/1/2021) kasus pengeroyokan Wartawan Malaka ini masih berjalan lamban. Belum ada informasi lanjutan dari Polda NTT, yang bisa diterima/diketahui masyarakat melalui Tim Kuasa Hukum si korban.

Pertanyaan saya, kasus ini sudah dininabobokankah? Didiamkan? Dibungkam? Atau seperti apakah penanganan kasus itu sekarang? Bagaimana progresnya? Sudah diapakan ketiga tersangka saat ini?

Bapak/Ibu terhormat…
Pengeroyokan terhadap Wartawan sekaligus Pemimpin Redaksi media syber Gardamalaka.com atas nama Yohanes Seran Bria alias Bojes terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2020 lalu di Haitimuk, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kejadian sekira pukul 17.00 WITA.

Saat itu, Wartawan sedang dalam perjalanan pulang menjalankan tugas peliputan sehubungan dengan aktivitas kampanye salah satu paket calon pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2020.

Sebab, demi jalannya demokrasi yang sehat, pers ikut terlibat secara aktif; Pers diberi keleluasaan oleh undang-undang untuk mengawal demokrasi. Pers/kejurnalistikan menjadi bagian penting yang membantu negara menjaga stabilitas nasional. Pers adalah juga salah satu pilar penopang demokrasi.

Namun, kenyataan di lapangan sering terjadi berbeda. Masih ada pihak-pihak yang memandang pers sebelah mata, bahkan masih terjadi insan pers dipukul, dianiaya, dikeroyok, dicaci, difitnah. Mengapa masih ada insan pers yang dipukul, dikeroyok, dianiaya?

Bapak/Ibu tentu mengetahui, bahwa di Indonesia, pekerjaan jurnalistik/Pers dilindungi oleh Undang-Undang.

Dalam pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers disebutkan bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Jaminan terhadap kebebasan pers memiliki kausalitas dengan perlindungan wartawan.

Kebebasan pers diperlukan agar wartawan mampu menjalankan pekerjaannya secara baik dalam memenuhi hak-hak masyarakat, yakni hak atas informasi (right to information) dan hak untuk tahu (right to know). Maka menjadi kewajiban negara untuk memenuhi (obligation to fulfil) kemerdekaan pers itu.

Sebagaimana tercantum dalam Pasal UU 40 Tahun 1999, dinyatakan bahwa dalam melaksanakan profesinya, wartawan mendapat perlindungan hukum.

Pertanyaan saya, mengapa setelah wartawan dikeroyok, pelaku sudah ditersangkakan, Polisi masih terkesan lamban menangani?

Mungkinkah karena tindakan pemukulan/pengeroyokan dilakukan oleh oknum Tim Pemenangan salah satu paket calon bupati dan wakil bupati di Malaka?

Atau mungkin karena ketiga tersangka adalah kader Partai Golkar, yaitu Anggota Aktif DPRD Kabupaten Malaka Fraksi Golkar, Ketua Pengurus Anak Cabang Golkar Malaka Barat, dan Anggota Angkatan Muda Partai Golkar?

Akh bapak/ibu terhormat…
Keadilan menurut hukum ini sepertinya sesuatu yang terlampau jauh bagi insan pers…

Bagaimana tidak? Kasus pengeroyokan yang tergolong pidana di muka umum ini sudah sampai ke Polda NTT, tapi tersangka masih belum diapa-apakan, belum juga ditahan. Padahal bukti-bukti pemukulan berupa video sudah ada, berita acara perkara (BAP) sudah ada, keterangan saksi sudah ada.

Sedangkan kita tahu bersama, peristiwa pemukulan semacam ini adalah perkara pidana ‘di muka umum secara bersama-sama melakukan kekerasan’ sebagaimana dimaksud dalam pasal 170 ayat 1 KUH Pidana, subsider pasal 351 ayat 1 KUH Pidana, juncto pasal 55 ayat 1 ke 1e KUH Pidana dan atau pasal 18 ayat 1 UU RI, nomor 40 tahun 1999 tentang pers.

Sehingga, menjadi jelas bahwa setiap orang yang melakukan tindak pidana harus dihukum.

Lantas, apa lagi yang ditunggu kepolisian (Polda NTT) untuk menindak kejahatan pidana tersebut?

Bapak/Ibu terhormat…
Sudah 3 (tiga) bulan lebih kasus ini bergulir tanpa jelang adanya suatu kepastian hukum. Apakah kasus serupa ini harus diselesaikan di tingkat pusat (Jakarta)?

Saya sebagai warga negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi menuliskan surat ini untuk mencari tahu kejelasan dan progres kasus pengeroyokan wartawan tersebut.

Kita tahu bersama bahwa tugas pokok Polri seperti diamanatkan Pasal 13 UU Kepolisian adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Oleh sebab itu, kepolisian di bawah komando Kapolri yang baru dilantik diharapkan segera bertindak. Jangan sampai Polri kehilangan kepercayaan publik/masyarakat. Polri jangan mengabaikan tanggung jawab yang sudah diembankan negara demi menjaga dan melindungi masyarakat.

Terbaru, seperti diberitakan SEPANG INDONESIA.CO.ID, Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Rishian Krisna Budhiaswanto, saat dikonfirmasi pada Rabu (27/1/2021) pukul 15.00 WITA via WhatsApp terkait perkembangan kasus pengeroyokan terhadap wartawan tersebut menuliskan bahwa dirinya akan mengecek dulu.

Maka, saya meminta dengan hormat:
1) Polda NTT segera mengecek dan menyampaikan kepada publik/masyarakat Malaka perkembangan/progres penanganan kasus pengeroyokan wartawan di Malaka;
2) Polda NTT segera menahan ketiga tersangka, yaitu Raymundus Seran Klau, Sergius Fransiskus Klau, dan Yohanes Seran;
3) Polda NTT segera proses lanjut kasus pengeroyokan wartawan gardamalaka.com, dan melimpahkan ke kejaksaan, agar korban mendapatkan keadilan sekaligus menjadi pembelajaran bagi masyarakat seperti disampaikan Pengamat Hukum Universitas Widya Mandira Kupang, Mikhael Feka, S.H,. M.H, melalui pesan WhatsApp kepada SEPANG INDONESIA.CO.ID, Rabu (27/1/2021).

Tindakan penganiayaan wartawan adalah tindakan pidana yang melawan Undang-Undang. Polisi sebagai alat negara, penegak hukum jangan kalah terhadap tindakan premanisme.

Setiap pelaku kejahatan pidana harus dihukum setimpal. Tidak ada yang kebal hukum, bukan?

Akhirnya, saya mengajak semua warga negara pemerduli demokrasi, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke Rote: Mari turut menyuarakan kebenaran dan keadilan.

Salam Demokrasi.

Dari:
Kondradus Yohanes Klau, S.Pd., M.Sc.
(Pendiri gardamalaka.com, Penulis, Pemerhati Pendidikan dan Demokrasi).

Terbitkan Pada: 28 Januari 2021 by Corps News

BAGIKAN :
Loading...
TERIMA KASIH
TELAH MENGUNJUNGI CORPSNEWS
MEDIA FAKTUAL DAN BERIMBANG
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat