SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG
Krisis Identitas: Tuntutan Atas Martabat Dari Sebuah Politik Kebencian

Krisis Identitas: Tuntutan Atas Martabat Dari Sebuah Politik Kebencian

64
E. Ombrio Kaho

Refleksifitas untuk kita ( manusia yang bebas)

Kata kunci: Demokrasi, politik, eksistensi, identitas, ‘saya’, kebencian.

Pesta demokrasi seringkali menjadi ajang untuk menampilkan diri bagi beberapa golongan dan partai tertentu. Di mana orang-orang menyambut demokrasi dengan penuh sukacita dan juga penuh rasa kebencian. Apa harapan terbesar dari semuanya itu? Harapan besarnya adalah tercapainya sebuah keadilan sosial. Pesta demokrasi sering kali terjadi peleburan dari beberapa ideentitas diri menjadi satu yang kemudian melahirkan sebuah krisis baru.

Salah satu krisis itu disebabkan oleh sikap kurang memahami diri dan pilihan-pilihan yang tampak dalam keputusannya. Pengertian lainnya adalah butuh sebuah permenungan atas pemahaman akan diri sendiri. Faktanya tidak demikian. Pada mulanya identitas tumbuh sebagai sebuah pembeda antara diri seseorang dan dunia luar, dengan segenap aturan dan norma sosial yang tidak cukup mampu mengenali nilai atau martabat diri seseorang tersebut. Perasaan akan pengakuan diri tersebut memunculkan atau bahkan memicu pencarian akan pengakuan yang pada akhirnya berujung pada pilihan yang diekspresikan dalam figur, golongan dan partai politik tertentu.Tidak cukup ‘saya’ memiliki harga diri jika orang lain tidak memberikan pengakuan secara publik kepada ‘saya’. Atau dengan kata lain harga diri tidak hanya sebatas pada ‘saya’menentukan pilihan melainkan ‘saya’ perlu diakui dalam setiap pilihan-pilihan yang ‘saya’ pilih. Seringkali harga diri muncul dari pengakuan oleh orang lain. Lebih dari sebuah identitas, persaingan dalam kontestasi politik seringkali menjadi sebuah cara untuk menunjukan eksistensi.

Orang atau masyarakat sering kali menunjukkan diri dengan menentukan pilihannya. Hal ini tampak dalam sikap mencoba untuk menyamakan diri dengan apa yang ditampakan oleh dunia luar. Hasilnya adalah orang tidak lagi menjatuhkan keputusan pada apa yang baik dan benar tapi pada suka atau tidak suka. Hal ini cukup mengkwatirkan sekaligus memperjelas krisis identitasnya. Krisis ini semakin tebal ketika setiap pribadi butuh sebuah pengakuan. Hal ini sangat lumrah. Karena pada dasarnya manusia butuh pengakuan. Filsuf Hegel menyebut perjuangan untuk mendapatkan pengakuan adalah penggerak utama sejarah manusia. Hal ini berujung pada kemampuan untuk menbandingkan. Ketika direnungkan secara mendalam kemampuan untuk membandingkan dan mengevaluasi orang lain adalah sumber dari sebuah ketidakbahagiaan manusia. Bahkan membenci itu sendiri adalah sebuah cara untuk mengakui martabatnya. Bahkan identitasnya ditunjukkan dengan cara membenci. Kita akan senang jika lawan politik kita kalah atau terlibata dalam isu-isu negatif. Hal inilah yang terkadang membuat suhu politik di negeri ini cenderung ‘panas’. Masyarakat mudah diadu domba atau diprovokasi dengan berbagai macam isu. Mereka kehilangan identitas sebagai masyarakat yang bebas dan merdeka. Mungkin masyarakat kita perlu disadarkan bahwa kebebasan dan kemerdekaannya adalah identitas kodrati yang tidak akan dan tidak pernah diganggu gugat. Sebab identitas adalah sebuah gagasan moral yang kuat yang datang pada kita sebagaimana yang disebutkan oleh Charles Taylor.

BAGIKAN :
Share
Loading...
Loading...
Loading...
SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat