Covid-19 & Keluarga Milenial

Covid-19 & Keluarga Milenial

Oleh : Fr. Gebby Klau, CMF
Misionaris Claretian

Akhir-akhir ini, dunia berada dalam duka yang mendalam akibat pengaruh penyebaran Covid-19 yang mengakibatkan kematian di mana-mana. Kedamaian dan kenyamanan yang selama ini memberi ruang gerak bagi semua orang, kini hanyalah sebuah jeritan kerinduan atau impian belaka yang sedang dinantikan ketidakpastiannya.

Jeritan kesakitan terus terdengar di seantero dunia oleh mereka yang menjadi korban dari wabah ini, yang saat ini pula sedang terbaring kaku di rumah sakit dan bahkan sebagian telah mendahului ke rumah Bapa, yang menjadi tujuan akhir dari hidup manusia.

Covid-19 telah menguasai seluruh lini kehidupan manusia, baik itu sosial-politik, budaya maupun ekonomi. Tidak hanya itu, pengaruh wabah ini juga telah merembes masuk dalam kehidupan perkawinan keluarga saat ini dan telah memberi pengaruh yang sangat besar baik itu pengaruh positif maupun negatif.

Di negara China, seperti dilansir oleh kompas.com, angka perceraian dilaporkan meningkat seiring dengan penyebaran wabah ini, disinyalir akibat pasangan “menghabiskan waktu bersama terlalu lama selama masa karantina akibat keberadaan Covid-19 ini”. Lu Shijun, manajer pencatatan pernikahan di Dazhou, Provinsi Sichuan, menceritakan ada 300 pasangan yang hendak bercerai sejak 24 Februari. Otoritas meyakini, meningkatnya perceraian di China bisa jadi disebabkan fakta bahwa mereka terlalu lama bersama selama karantina ini. Fakta ini menunjukkan bahwa keberadaan covid-19 ini menjadi pemicu terjadinya konflik dalam kehidupan perkawinan keluarga.

Keberadaan wabah covid-19 ini menimbulkan kegelisahan sekaligus keprihatinan mondial karena keberadaan wabah ini telah “menghentikan” langkah manusia untuk memberi makna pada kehidupan ini.
Kalau kita meneropong lebih jauh tentang fakta ini, ada sebagian opini publik yang mengatakan bahwa keberadaan wabah ini tidak saja memberikan dampak buruk tetapi juga ada sisi positif yang bisa diambil dari keberadaan wabah ini. Tetapi perlu disadari bahwa meskipun ada dampak positif dari pengaruh wabah ini, toh wabah ini tetap dalam dirinya adalah buruk, karena menghentikan roda kehidupan manusia (mengakibatkan kematian).

Dengan demikian, kehidupan keluarga pun akan terganggu dan bisa saja menimbulkan konflik dalam kehidupan perkawinan. Memang, sejauh ini, fakta menunjukkan bahwa keberadaan covid-19 ini telah menimbulkan banyak masalah dalam keluarga khususnya berkaitan dengan kehidupan ekonomi keluarga.
Sebagai masyarakat dunia, patut kita melihat keberadaan covid-19 dan pengaruhnya bagi kehidupan keluarga dari dua sisi, yakni sisi positif dan sisi negatif, tetapi kita tidak memberi affirmasi bahwa covid-19 ini baik adanya. Sejauh pengamatan, ada hal baik yang perlu dimaknai oleh setiap keluarga kristiani, antara lain, dengan bertitik tolak dari protokol kesehatan yang digaungkan hampir oleh seluruh negara khususnya belajar, bekerja dan aktivitas yang hanya dilakukan di rumah menjadi kesempatan yang sangat baik bagi setiap keluarga untuk mengalami kembali masa-masa awal kehidupan perkawinan keluarga yang mana sebelumnya tidak bisa dilakukan karena kesibukan kerja dan urusan pribadi lainnya. Dengan berada bersama di rumah menjadi momen berharga untuk berjumpa kembali dengan anggota keluarga setelah masing-masing sibuk dengan kepentingannya sendiri.

Momen untuk membaharui diri dan memberikan diri untuk memaknai setiap peristiwa dalam keluarga.
Protokol kesehatan yang dilansir oleh pemerintah juga menjadi salah satu cara untuk semakin memperkuat kehidupan keluarga dan menghindar dari konflik yang berujung pada perceraian. Terlepas dari fakta perceraiaan yang terjadi di China, keberadaan pandemi covid-19 ini juga memberi dampak buruk bagi kehidupan keluarga. Karena itu, kita perlu melihat Keberadaan covid-19 juga menjadi barometer untuk mengukur kesetiaan terhadap pasangan suami-istri. Sebab, kebersamaan yang terlalu lama selama masa karantina tidak serta-merta menciptakan keharmonisan dalam keseharian hidup.

Loading...

Perjuangan untuk menjaga agar keharmonisan pasangan suami-istri tetap terjaga di tengah pandemi covid-19 membutuhkan usaha, upaya dan pengorbanan dari setiap pasangan. Jika tidak, akan terus terjadi konflik dan mungkin saja berujung pada perceraian. Kebersamaan dalam kurun waktu yang lama memungkinkan munculnya “keburukan” dari setiap pasangan.
Pakar UGM, Herien, mengatakan, keharmonisan pasangan suami istri tidak akan datang begitu saja, terlebih di tengah bencana Covid-19.

Hal itu harus diwujudkan melalui perjuangan, pengorbanan, upaya dan doa, selama masa karantina. Pasalnya, pasangan yang tadinya hanya berjumpa beberapa jam karena aktivitas pekerjaan, kini harus bertemu 24 jam dan mengetahui “keburukan” satu sama lain. Belum lagi ditambah dengan meningkatkan stres selama pandemi. Karena itu, sangat dibutuhkan keterbukaan diri satu sama lain demi menghindari konflik dalam keluarga. Keterbukaan ini menjadi nyata dalam komunikasi yang baik dan benar antar pasangan suami-istri sehingga memungkinkan terciptanya keharmonisan dan kesejahteraan bersama. Keterbukaan itu bisa dilakukan dalam berbagai aspek, seperti terbuka tentang kecemasan, rasa lelah, ekomoni keluarga bahkan kalau memungkinkan perlu terbuka kepada pasangan tentang kedalaman cinta dan kesetiaan terhadap pasangan. komunikasi yang baik dan benar membantu setiap pasangan untuk menjaga keutuhan perkawinan. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa, di tengah situasi pandemi yang mencekam ini, kegelisahan dan kecemasan bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan keluarga. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa saja terjadi ketika hubungan antara suami-istri yang sebelumnya tidak akur harus disatukan karena masa karantina ini.

Dari permenungan tentang keberadaan pandemi covid-19 ini, akhirnya kita dapat berasumsi bahwa masa karantina tidak hanya menjadi momen perjumpaan kembali keluarga setelah dari kesibukan masing-masing, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menguji kesetiaan terhadap pasangan. Bisa saja kesempatan ada bersama memungkinkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam kehidupan perkawinan, seperti perselingkuhan (hadirnya orang ke-3 dalam hubungan perkawinan). Untuk itu, sangat perlunya rasa kepemilikan terhadap pasangan demi menghindari konflik atau kekerasan yang mungkin saja berujung pada perceraian.
Mari, selamatkan keluarga dari pandemi covid-19 ini………..
Badai pasti berlalu………………
Terima kasih……

salam In-Corde Matris.

Loading...

Corpsnews

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat