Kategori
OPINI

Karpet Merah Pentagon Untuk Prabowo Dan Makna Hubungan Indonesia – AS

64
Foto Bung Rogger Evantino Bersama Prabowo Subianto

Oleh : Bung Rogger Evantino – Staf Ketua Umum Gerindra I, (Alumni Pusdiklat Hambalang, DPP Partai Gerindra Angkatan 2012), Kandidat Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pertahanan Republik Indonesia

Usai sudah polemik puluhan tahun dan multi tafsir terkait status dan pelarangan Prabowo Subianto bepergian ke Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Hal ini diketahui setelah Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dilaporkan memutuskan untuk mengeluarkan visa kepada Prabowo. Pemberian visa ini kali pertama dilaporkan media politik ternama Amerika Serikat, Politico, Selasa (6/10/2020), dengan mengutip seorang sumber di lingkungan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Hari ini Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menerima kunjungan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto di Gedung Pentagon, Virginia, AS, Jumat (16/10/2020) waktu setempat. Kunjungan itu guna memenuhi undangan Menhan AS Mark Esper setelah Departemen Luar Negeri AS secara resmi mengeluarkan visa untuk Prabowo. Aktivitas Menteri Pertahanan Prabowo Subianto selama di AS akan berlangsung hingga 19 Oktober 2020 mendatang.

“Kementerian Pertahanan Amerika Serikat akan menerima Menteri Prabowo di Pentagon pada 16 Oktober,” ujar Juru Bicara Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Jakarta, Michael Quinlan, dalam keterangannya, pada Kamis (16/10/2020).

Kehadiran Prabowo Subianto selaku Menteri Pertahanan Republik Indonesia, sebelumnya telah mendapat restu dari Presiden Jokowidodo. “Saya menghadap Presiden, saya lapor, pak saya dapat undangan dari Amerika Serikat, Presiden (Joko Widodo, Red) katakan ya harus berangkat,” kata Prabowo.

Ditengah desas desus pro dan kontra yang dilayangkan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) terkait pemberian visa kepada Prabowo Subianto oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, saya mencoba untuk menggaris bawahi makna dari kunjungan tersebut.

*). PERTAMA “MENGHAPUS SEMUA TUDUHAN MIRING TERHADAP PRABOWO” :
Dalam setiap acara dan kesempatan internal di lingkup Kader Partai Gerindra, Prabowo selaku Ketua Dewan Pembina dan Ketua Umum selalu mengajarkan kepada kami terkait totalitas dan loyalitas sebagai seorang anak bangsa, dalam mempertahankan NKRI dan juga mengabdi kepada Ibu Pertiwi. Tuduhan dan juga tafsir miring terkait keputusan pak Prabowo bergabung ke Kabinet Indonesia Kerja sudah ramai sejak Presiden Republik Indonesia mempercayakan pertahanan Negara Republik Indonesia ini dibawah komando Mantan Danjen Kopasus ini. Terkait tuduhan dan fitnah miring terhadap Prabowo Subianto tersebut, sama sekali beliau tidak pernah meresponnya, dan tetap menunjukan loyalitas sebagai seorang yang dipercaya membantu Presiden Republik Indonesia saat ini.

Terkait kunjungan ke Amerika Serikat hari ini, secara otomatis mematahkan segala tuduhan miring terhadap mantan Danjen Kopassus ini selama puluhan tahun. Sebelumnya, Prabowo dituding melakukan pelanggaran HAM oleh AS di masa Presiden Bill Clinton, George W. Bush, dan Barack Obama. Prabowo juga dituduh melakukan penculikan aktivis mahasiswa dalam aksi kerusuhan Mei 1998 yang menumbangkan Presiden Soeharto.

Loading...

Diketahui, pada tahun 2000 harian New York Times mengatakan Departemen Luar Negeri AS menolak visa Prabowo Subianto yang pangkat terakhirnya di militer adalah Letnan Jenderal, untuk menghadiri wisuda anaknya di Boston. Namun, pihak AS tidak pernah menjelaskan mengapa permohonan visa Prabowo ditolak.

Kehadiran Prabowo di AS saat ini membuktikan bahwa segala tuduhan tersebut tidak benar dan tidak berdasar. Saya menilai Keputusan Kementerian Luar Negeri AS memberi visa dan mencabut larangan terhadap Prabowo Subianto sudah tepat karena kunjungan Prabowo akan memperkuat hubungan bilateral AS-Indonesia dan kerja sama militer kedua negara.

**). KEDUA “REPOSITIONING PRABOWO JELANG PILPRES 2024″
Dengan memenuhi undangan Menteri Pertahanan AS, saya menyimpulkan bahwa Prabowo Subianto telah meningkatkan ‘Political Standing’-nya dalam konfigurasi politik di Indonesia jelang 2024. Hari ini tidak ada satupun lagi kasus hukum yang diduga melibatkan Prabowo Subianto.

Amerika Serikat adalah Negara besar dan kuat. Sangat tidak mungkin pemerintah AS sembarangan mengundang pejabat tinggi suatu negara untuk datang dengan agenda kunjungan resmi kenegaraan. Prabowo adalah salah satu tokoh politik nasional yang punya pengikut dan simpatisan cukup banyak di Indonesia. Kunjungan Prabowo mengindikasikan sinyal kuat AS akan meng-endorse Prabowo pada pemilu 2024 yang akan datang. AS juga butuh kerja sama dengan Indonesia sebagai ‘Balance of Power’ kedekatan Indonesia dengan Tiongkok, serta men-support ‘Freedom of Navigation’ di Laut Cina Selatan.

Loading...

Sedikitnya sudah 11 negara sudah dikunjungi Prabowo guna menjalin kerja sama militer antar negara. Kunjungan 11 negara itu meliputi Malaysia 14 November 2019, Thailand 17 November 2019, Turki 27-29 November 2019, dan China 15 Desember 2019. Kemudian disusul Jepang 20 Desember 2019, Filipina 27 Desember 2019, Perancis 11-13 Januari 2020, dan Rusia 28 Januari 2020. Lalu, Uni Emirat Arab (UEA) 24 Februari 2020, Rusia 23 Juni 2020, dan Turki 22 Juli 2020. Dengan demikian, lawatan ke AS menjadi negara ke-12 yang disambangi Prabowo sejak dilantik menjadi Menhan pada 23 Oktober 2019.

Untuk membeli teknologi militer dari luar harus ada izin dari pemerintah, nggak bisa kita langsung ke pabriknya. Karena itu kita harus datang ke pemerintah, saya harus datang ke menteri pertahanan negara-negara itu, kulonuwun, sowan, minta izin, dan kalau mereka baik sama kita, mereka memandang Indonesia bersahabat, baru kita bikin perjanjian kerja sama pertahanan. Dari situ baru kita bisa negosiasi dengan pabrik-pabrik,” jelas Prabowo dalam wawancara khusus dengan DIGDAYA TV beberapa waktu lalu.

KETIGA “KEPENTINGAN AS DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN BILATERAL DENGAN INDONESIA, DALAM PERANG DINGIN AS – TIONGKOK”
Amerika Serikat berkepentingan agar Indonesia membeli peralatan militer AS, seperti pesawat tempur F-35 ketimbang Sukhoi dari Rusia. Indonesia adalah negara paling strategis di kawasan Asia Tenggara. Sejarah membuktikan bahwa salah satu kesuksesan pemimpin Indonesia adalah karena mendapat dukungan kuat dari negara besar di Eropa.

Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia menyimpulkan bahwa Undangan AS untuk Prabowo adalah bagian dari strategi Amerika menghadapi China. Hikmahanto menuturkan, berdasarkan “Buku Putih” Departemen Pertahanan AS, disebutkan bahwa China berniat untuk membangun pangkalan militer di Indonesia. Menurutnya, keinginan China tersebut tak lepas karena faktor kedekatan ekonomi Indonesia dengan Negeri Tirai Bambu.

Karenanya, Menhan AS mengundang Menhan Indonesia untuk memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara. Di balik kerja sama itu, AS ingin agar Indonesia tidak jatuh dalam perangkap China.

Sementara itu Juru Bicara Menteri Pertahanan RI Dahnil Anzar Simanjuntak, menghormati kritik sejumlah organisasi terhadap kunjungan Prabowo Subianto ke AS. Ia menyatakan, selama mengabdikan diri untuk negara, Prabowo sudah mengalami penolakan kunjungan dan tuduhan pelanggaran.

“Dengan adanya pihak-pihak yang menolak, mengkritisi, saya pikir silakan saja, Pak Prabowo sudah mengalami penolakan dan tuduhan macam-macam selama beliau bertugas sebagai abdi negara, juga bertugas sebagai politisi,” terang Dahnil.

KESIMPULAN :
Indonesia merupakan negara strategis dan memiliki peran yang sentral di kawasan Asia Pasifik, baik untuk AS maupun China.
Prinsip bebas aktif dalam pelaksanaan kebijakan luar negeri Indonesia disesuaikan dengan dinamika nasional, regional, dan internasional, guna mengoptimalkan kontribusi internasional Indonesia dan mencapai kepentingan nasional secara menyeluruh baik dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan masyarakat, maupun menciptakan ketertiban dunia.

Maka prinsip bebas aktif diimplementasikan secara lebih pragmastis, proaktif, fleksibel,
akomodatif, dan asertif. Hemat saya, keunggulan Indonesia adalah dari aspek geografis dan ancaman eksternal dalam membentuk kebijakan luar negeri, sehingga diplomasi adalah alat kebijakan yang mumpuni dalam menentukan sikap politik luar negeri.

Dalam sidang Majelis Umum PBB ke-15 pada 1960, Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya dengan judul “Membangun Dunia Baru” (To Build the World Anew). Presiden Soekarno menyerukan “Kekuatan Dunia Baru” (New Emerging Forces) untuk bangkit
menuju tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang, melampaui dominasi negara-negara besar di dunia yang secara ideologis terbagi ke dalam Blok Barat dan Blok Timur kala itu.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kini Indonesia sudah tepat memainkan peran yang sangat penting, dan menjelma menjadi sebuah negara berkembang yang memiliki peran sentral di kawasan Asia Pasifik.
Dengan prinsip politik ‘Bebas Aktifnya’ hendaknya Indonesia terus memainkan peran-peran strategis tersebut dalam hubungan bilateral dengan negara-negara luar.

“BECIK KETITIK OLO KETORO”.
Semuanya kini sudah terang benderang. Kami meyakini itu sejak dahulu. Bahwa untuk mencapai cita – cita tidak sedikit halangan, rintangan dan hambatan. Fitnah keji akan terus mengalir. Kami kadang mencak-mencak terhadap sikap diam itu. Demi Ibu Pertiwi, engkau diam seribu bahasa. Terkadang menimbulkan polarisasi dan acapkali memunculkan ketegangan. Engkau memilih untuk mengalah demi sumpahmu dan kecintaanmu terhadap Merah Putih.
“DALAM PERJUANGAN UNTUK BANGSAMU, TAK BOLEH ADA RUANG PERASAAN PRIBADI” (Prabowo Subianto).
Tak terasa jarum jam sudah lewat pukul 00.01 Tanggal 17 Oktober 2020 kini. Tepat 69 tahun yang lalu di Kota ini engkau lahir dari rahim seorang Kristiani berdarah Minahasa yang bersuamikan keturunan Raden Tumenggung Kertanegara (Pangeran Banyak Wide). Selamat Ulang Tahun Bapak Prabowo Subianto. Semoga selalu dan senantiasa dianugerahi kesehatan, kebijaksanaan dalam mengemban tugas dari Presiden Jokowidodo, demi membawa GARUDA terbang tinggi guna mencapai visi besar INDONESIA RAYA.

BRAVO 08. SALAM HORMAT DAN DOA KAMI.

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...