Kategori
Berita

Semangat Bangun Belu Ignasius Sumantri Disebut Mengalir Dalam Nadi Paket Sehati

68
Kampanye SEHATI, Freny Indriani Yanuarika istri dari dr.Agus Taolin Di Tenukiik

CorpsnewsAtambua – Semangat Ignasius Sumantri dalam melayani di sebut sama seperti dr.Agustinus Taolin, yang saat ini maju sebagai calon Bupati pada Pilkada serentak 2020 dengan Tagline SEHATI. Hal tersebut di ungkapkan Freny Indriani Yanuarika istri dari dr.Agus Taolin yang di iring rasa haru ketika masyarakat menyebutkan kebaikan yang pernah dilakukan ayahnya Ignasius Sumantri saat menjabat sebagai bupati di Kabupaten Belu pada Periode Tahun 1988 s.d Tahun 1993.

Kebaikan yang pernah dilakukan oleh mendiang Ignasius Sumantri ini disampaikan oleh beberapa masyarakat Tenukiik saat menghadiri pertemuan bersama Istri dr.Agustinus Taolin dan Istri dari Drs.Aloysius Haleseren di Kampung Jawa, Tenukiik,Kota Atambua Rabu ( 14/10/2020 )

Salah satu orang tua Mikhael saat pertemuan tersebut menyebutkan bahwa, masyarakat Belu semuanya tahu pembangunan -pembangunan yang pernah dibuat oleh beliau Bapak Ignasius Sumantri diantarnya disebutkannya yakni pembangunan jembatan pembangunan Tugu dan bebrapa  trotoar  yang hingga kini masih ada di Kabupaten Belu

“Semua tahu,orang belu tahu apa yang sudah dibuat oleh bapak Ignasius Sumantri,Jembatan Talau,Tugu di halilulik,Monumen Meriam dan masih banyak lagi”sebut Mikhael.

Mendengar apa yang diucapkan Mikhael tersebut, Ibu Freni Istri dari dr.Agus Taolin merasa sangat terharu,ternyata masih ada masyarakat yang mengingat kebaikan yang dibuat oleh mendiang ayahnya Ignasisu Sumantri.

“Saya terharu ternyata begitu banyak masyarakat menyanyangi Beliau dan mengingat kebaikan yang pernah dilakukan oleh Beliau” ( Ayahnya Ignasius Sumantri),ucap Ibu Freni

Selanjutnya Freny Indriani Yanuarika pun bercerita bagaimana ayahnya bekerja sepenuh hati dalam menghabiskan waktu melayani masyarakat Kabupaten belu saat itu

“Beliau ( Ignasius Sumantri ) Waktu itu memang bekerja sepenuh hati bahkan beliau kami jarang bertemu beliau.kalau bertemu biasanya kami yang harus berlibur ke Belu”kenang Nyi Freni.

Loading...

Semangat Ayahnya dalam melayani tersebut dikatakannya sama seperti suaminya dr.Agustinus Taolin saat ini, yang mana suaminya tersebut dalam melayani pasien selalu mengutamakan pelayanan yang sepenuh hati sehingga pasien yang dilayani bisa mendapatkan kesembuhan dengan baik.

Baca Juga: Kunjungi Umanen Cawabup Belu Aloysius Kesehatan Gratis Program Prioritas Paket Sehati

Selain Itu Nyi Freni mengungkapkan keinginan semuanya saat ini untuk mencalonkan diri sebagai Bupati di kabupaten Belu ini semata – mata karena semuanya merasah terpanggil melihat kondisi Kabupaten Belu saat ini yang dirasakan masih sangat tertinggal

Istri dari dr.Agustinus Taolin ini,awalnya merasa kaget akan keinginan suaminya untuk menjadi pemimpin di Kabupaten Belu,namun karena keinginan suaminya yang kuat ingin mengabdikan dirinnya demi kemajuan tanah kelahirannya maka pada akhirnya Ia pun memyetujui keinginan suaminya tersebut.

Loading...

Dalam pertemuan itu hadir mendampingi Nyi Freni, istri dari Calon Wakil Bupati Belu Nyi Rinawaty, Ketua Komisi 1 DPRD Belu Benedictus Manek, Ketua PKPI Mikhael Minggu,dan beberapa perwakilan dari partai pendukung lainnya.

Berikut sekelumit kisah mantan Bupati penandatangan Prasasti Seroja di Monumen Seroja yang di lansir dari Facebook GenPI_Atambua
Disadur dari Buku: Jejak Tapak Dari Masa Ke Masa; Belu Pemimpin dan Sejarah
Penulis: Hans Itta & Daniel Tifa.

Kolonel Art (Purn) Raden Ignatius Sumantri

=================================
Lahir: Yogyakarta, 20 Desember 1940
Wafat: Bandung, 10 Mei 2018
Masa Kepemimpinan: Tahun 1988 s.d Tahun 1993
==========================================
“Meskipun bukan Bupati lagi, tetapi mereka (orang Belu) masih tetap ingat saya dan keluarga””
========================

Lelaki berkulit sawo matang kelahiran Yogyakarta, 20 Desember 1940 ini dikenal begitu luas oleh Masyarakat di Kab. Belu. Menurut beliau, Belu, awalnya ibarat “negeri asing” baginya, karena sebagai orang luar Belu, masyarakat setempat tidak begitu saja mau menerima kehadirannya. Namun, latar belakang pendidikan militer, ABRI (baca: TNI saat sekarang), dan saratnya pengalaman dibidang pendidikan teritorial, menjadikan modal dasar bagi beliau untuk memulai tugas dan jabatannya sebagai Kepala Daerah (Bupati) Kab. Belu.

Lahir dari pasangan Raden Panewu Projosastro dan Ibu Raden Nganten Sadinah, kedua orang tua menamai beliau Raden Ignatius Sumantri yang biasa dipanggil “Tri”. Sebagai bungsu dari 7 bersaudara, Tri memang dimanja. Meskipun demikian, ayahnya, seorang Pamong Praja pada Kantor Gubernur Yogyakarta (Tahun 1950-an) menanamkan disiplin keras sejak usia dini, sehingga beliau maju dalam hal pendidikan, juga disiplin; Ditambah pendidikan “ala kraton” ikut membentuk karakternya menjadi pribadi yang lemah lembut dan terbuka dengan siapa saja, tanpa membedakan suku dan agama.

Dalam jajaran TNI-AD, beliau seorang perwira menengah berpangkat Kolonel, namun memiliki kepribadian yang sangat bersahaja, dan rendah hati, tutur katanya begitu lembah lembut khas orang Yogya, dan selalu menghargai setiap orang darimanapun berasal. Pangkat dan Jabatan bagi beliau hanya merupakan titipan sementara Tuhan. Itu sebabnya, disaat menjabat sebagai Kepala Daerah Kab. Belu periode 1988-1993, tak ada sekat yang membatasinya dengan masyarakat untuk dapat duduk bersama, makan dan minum, serta berdiskusi bersama. “Kalau dengan tokoh masyarakat ataupun masyarakat biasa, saya tak mau diatur secara protokoler, sebab sulit mendapatkan informasi secara langsung dari mereka tentang keinginan dan kebutuhannya” ucap beliau.

Kedekatan beliau dengan masyarakat Belu yang begitu kental, menimbulkan rasa simpati dan hormat bagi beliau, sehingga sebuah penghargaan adat dianugerahi/diberikan kepada beliau berupa Gelar “Samara” untuk Pak Tri dan “Bete Lalenok” untuk Ibu Caroline Farida Sumantri.

Dimanapun beliau bertugas, pasti diterima oleh semua kalangan. Ketika menjabat sebagai Dandim 1604 Sikka, Maumere tahun 1978-1983 misalnya, beliau telah berhasil membangun kerjasama yang harmonis dengan unsur Muspida. Bahkan Muspida paling kompak diseluruh NTT adalah dari Kab. Sikka dimasa kepemimpinan Bupati Drs. Daniel Woda Palle. Beliau juga berhasil memikat Panglima ABRI waktu itu, Jendral M. Jusuf, sehingga empat kali mengunjungi Kab. Sikka; Sebuah kebiasaan yang jarang terjadi bagi seorang Jendral ABRI kala itu. Sama halnya dengan Presiden Soeharto, yang akhirnya juga menginap di Maumere dalam rangka panen raya Operasi Nusa Makmur. Kelaziman itu, jarang dilakukan oleh Presiden Soeharto yang harus menginap di Kota Maumere.

Keberhasilannya di Kab. Sikka itulah yang membuat Gubernur Ben Mboi terpikat, karena dimata Ben Mboi, Pak Tri merupakan salah satu figur dan sosok calon pemimpin yang cocok bagi pembangunan di Prov. NTT.

Sebenarnya di Tahun 1983,
Gubernur Ben Mboi sudah menginginkan Pak Tri menjadi Bupati Kab. Belu, namun niat tersebut urung kesampaian, karna waktu itu Pak Tri masih mengikuti SESKOAD (Sekola Staf dan Komandan Angkatan Darat) di Jakarta.

“Sudahlah, kamu ikut saya menjadi salah satu pemimpin di NTT”, kenang Pak Tri atas ajakan Pak Ben Mboi.

Beliau pun menjawab, “kalau ini perintah, saya terima, tapi kalau hanya bersifat penawaran, saya mau sekolah lagi”, jawab Pak Tri.

Jadi, sebenarnya figur Kepala Daerah Kab. Belu untuk Periode Tahun 1988 s.d Tahun 1993 memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Mengapa beliau dipilih? Alasan Bapak Gubernur Ben Mboi adalah karena Mantan Asisten Sospol Kodam IX Udayana ini merupakan figur yang paling cocok dan terbaik diantara calon lainnya. Disamping itu, karna letak Kab. Belu yang berbatasan langsung dengan Timor-Timur.

Masa awal kepemimpinannya, merupakan tantangan yang cukup berat, namun tantangan tersebut dijawab beliau dengan membangun komunikasi dilingkungan internal jajaran SEKWILDA (Sekretaris Wilayah Daerah; Saat ini lebih dikenal dengan SETDA), antar Kepala Dinas dan staf, maupun dengan tokoh-tokoh lintas agama, dan tokoh-tokoh masyarakat, termasuk Camat dan Kepala Desa.

Dibidang pelaksanaan pembangunan, ada sebuah pengalaman unik yang diceriterakan kembali oleh beliau. Waktu di Jakarta, beliau ditanya oleh salah satu Staf Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) tentang sejumlah usulan proyek jalan dan jembatan yang diajukannya. “Bapak Bupati, satu menit, berapa buah kendaraan yang melewati jalan hotmix dan jembatan rangka baja yang akan dibangun di Belu nantinya?”. Serasa disambar petir, beliau kaget untuk harus menjawab apa, karena tidak mungkin beliau memberikan jawaban secara matematika, dengan menggunakan rumus ilmu dagang.

Namun dengan kalem, beliau menyodorkan sebuah kalimat pendek, namun penuh makna, “Kab. Belu, yang berbatasan langsung dengan dengan Timor-Timur Provinsi Ke-27 Indonesia (sekarang Negara Timor Leste), hendaknya jangan ditinggalkan dan dianaktirikan dalam pembangunan. Buatlah jembatan, jalan, dan listrik di kota-kota kecamatan, dan perwakilan kecamatan, maka gerak dinamika kemajuan ekonomi akan muncul dalam semua aspek”. “Puji dan Syukur kepada Tuhan, usulan prokyek itu diterima oleh Pemerintah Pusat”, ucapnya merendah.

Beliau selalu memperingatkan stafnya agar tidak memenangkan tender proyek dengan uang, tetapi harus dengan kualitas. Dalam pengawasan terhadap proyek-proyek yang sementara dikerjakan, beliau juga turut mengawasi, maka tidaklah heran, didalam mobil dinasnya, selalu ada sebuah martil kecil yang biasa dipakai untuk mengetuk dinding tembok bangunan, terutama gedung-gedung pemerintahan.

Terobosan lain yang mungkin jarang dibuat waktu itu dalam pemerintahan didaerah, adalah bahwa stafnya diwajibkan menjaring masukan dan informasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat tentang program-program pemerintah yang digulirkan. Beragam informasi dari lapangan baik yang positif maupun yang sifatnya mengkoreksi kinerja pemerintahan, wajib hukumnya disampaikan langsung kepada Bupati untuk dibahas dan didiskusikan bersama pihak-pihak terkait agar dapat dicarikan solusi penyelesaiannya.

Mantan Perwira Keamanan Keluarga Alm. Jendral Achmad Yani dan Peraih Satya Lencana Penegak dalam penumpasan G-30S/PKI di Cimahi, Jawa Barat tahun 1966-1967 ini, kini telah tutup usia di Bandung, Pada kamis, 10 Mei 2018. Meninggalkan Ibu Caroline Farida yang dinikahinya di 17 Juli 1964, dan 3 orang anaknya.

Cimahi, menurut beliau, jauh dari kebisingan dan asap knalpot kendaraan. Maka dari Cimahi, keduanya hanya bisa menyaksikan Belu melalui layar kaca ataupun ceritra-ceritra dari setiap orang Belu yang mengunjungi, jika ke Jakarta atau Bandung. “Meskipun bukan Bupati lagi, tetapi mereka masih tetap ingat saya dan keluarga” ucapnya kepada penulis.

Demikian sekelumit kisah mengenai Orang Nomor. 1 di Kab. Belu periode 1988-1993. Selamat jalan Bapak, jasa dan pengabdianmu selama ini akan tetap selalu dikenang dan diamalkan juga sampai saat ini. (*)

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...