Kategori
Berita

Perang Akar Rumput Covid-19 (Sebuah Strategi Melawan Covid-19)

Opini Oleh: Wilibaldus Siga, S.KM   Alumni FKM Undana-Kupang

Isu kesehatan menjadi isu penting yang santer dibicarakan akhir-akhir ini. Hal ini tentu terjadi karena dunia sedang dilanda pandemi virus dalam jajaran keluarga virus corona yakni Sars-Cov-2 (COVID-19). Sejak virus ini pertama kali muncul kepermukaan di kota Wuhan, China November 2019 lalu, virus ini telah menyebar hampir keseluruh negara di dunia dan memberikan dampak yang cukup masif kesemua aspek kehidupan terutama kesehatan. Covid-19 adalah penyakit akibat infeksi virus corona yang menyerang sistem pernapasan dan bersifat zoonotik (baca:menular dari hewan ke manusia).

Indonesia sendiri sebagai salah satu negara tujuan destinasi wisata turis-turis asal China termasuk warga kota Wuhan baru menyalakan ‘alarm’ bahaya Covid-19 semenjak 2 maret setelah ditemukannya 2 orang terkonfirmasi COVID-19. Hemat saya cukup terlambat karena virus tersebut sudah lebih dulu masuk dan menyebar ke beberapa wilayah. Terakhir tercatat Indonesia memiliki kasus sebanyak 333.000 kasus konfirmasi postif COVID-19 tersebar di 34 Provinsi pada 11 Oktober kemarin. Lonjakan kasus yang cukup mengerikan dalam kurun waktu 7 bulan untuk ukuran wabah seperti ini.

Mobilitas masyarakat yang cukup masif menjadi faktor pendukung dalam penyebaran virus ini. Ditambah lagi upaya promotif dan prevantif yang kurang seperti misalnya rendahnya kebiasaan hidup sehat, minimnya kesadaran, serta kurangnya kepatuhan masyarakat terhadap himbauan kesehatan menjadi momok yang membuat virus ini ‘betah’ berlama-lama di negara kita.

Tecatat kasus Covid-19 di NTT dalam satu minggu ini (4-10 oktober) terdapattambahan 101 kasus positif berdasarkan laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nusa Tenggara Timur.

Lantas apa yang seharusnya kita lakukan untuk melawan pandemi ini? Hemat saya tentu kita tidak mau kalah melawan keganasan ‘The invible enemy’ ini, dibutuh strategi yang matang agar virus ini bisa dikendalkan dan lenyap dari bumi pertiwi khususnya wilayah NTT.
Akar Rumput Problematika penanganan dan pengendalian penularan COVID-19 di Indonesia khususnya NTT amat sangat kompleks. Upaya tersebut dapat terlaksana apabila semua pihak bekerjasama secara efektif. Namun faktanya upaya penanganan dan pengendalian penularan COVID-19 masih ‘jauh panggang dari api’. Mengapa demikian?

Pertama, pengetahuan masyarakat mengenai COVID-19 yang masih rendah. Hal ini berdampak pada perilaku masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit ini. Masyarakat cenderung abai dengan penerapan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari seperti tidak memakai masker saat keluar rumah, tidak menjaga jarak dan sebagainya.

Minimnya pengetahuan dan informasi juga mempengaruhi persepsi masyarakat terkait COVID-19 ini. Akibatnya masyarakat mudah terpapar informasi sesat (HOAX) yang terus berkembang hingga saat ini semisal informasi terkait RS yang sengaja mengcovidkan pasiennya untuk mendapatkan insentif dari pemerintah sempat beredar beberapa waktu lalu atau teori-teori konspirasi yang tidak benar adanya. Selain itu, upaya petugas kesehatan untuk mengedukasi masyarakat pun semakin berukurang seiring berjalan waktu.

Loading...

Kedua, minimnya fungsi kontrol dalam masyarakat. Penerapan protokol kesehatan dapat terwujud apabila masyarakat memiliki pengetahuan yang baik dan didukung oleh fungsi kontrol yang baik dalam masyarakat.

Masyarakat akan berperilaku sehat ketika mendapat himbauan, teguran dari RT/RW dan pihak keamanan. Mesti ada stimulus dari lingkungan sekitar untuk berperilaku sesuai protokol kesehatan. Ironisnya dengan budaya kekeluargaan yang tinggi justru semakin sulit untuk mengontrol satu sama lain. Budaya berkumpul, semisal pesta pernikahan dan kegiatan adat lainnya menjadi kendala dalam mencegah penularan COVID-19 ini.

Ketiga, mobilitas tinggi, semenjak pemerintah melonggarkan PSBB dan mencanangkan masa adaptasi kebiasaan baru mobilitas penduduk menjadi normal namun tidak didukung dengan penerapan protokol kesehatan yang baik. Akhirnya, adaptasi kebiasaan baru yang dicanangkan hanya sebatas narasi yang sukar di implementasikan.

Strategi PARC-19 Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sebagai salah satu organisasi profesi dibidang kesehatan masyarakat mencanangkan rencana strategi perang akar rumput terhadap COVID-19. Strategi ini sendiri sedang disosialisasikan kepada seluruh elemen masyarakat seperti pemerintah, petugas kesehatan yang tergabung dalam berbagai organisasi profesi, petugas keamanan serta yang paling utama masyarakat awam. Tentunya dalam pelaksaanaan strategi ini berfokus pada upaya promotif dan preventif sesuai dengan ketentuan dan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Loading...

Perang Akar Rumput melawan COVID-19 (PARC-19) merupakan strategi perang total yang melibatkan semua elemen masyarakat untuk memastikan masyarakat itu sendiri tetap sehat dan dapat bertahan hidup dalam situasi pandemi COVID-19. PARC-19 membangun kesadaran kritis dan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Merujuk pada beberapa pedoman penanggulangan COVID-19 yang sudah ada (Pemprov DKI Jakarta, Kemendesa PDTT, Kemenkes), PARC-19 mendorong masyarakat membentuk dan menjalankan RW Siaga COVID-19 sesuai protokol kesehatan dan semangat gotong-royong untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19 di masyarakat (IAKMI Pengda Jakarta,2020).

Rencana strategi ini memang awalnya berfokus pada wilayah yang menjadi episentrum penularan COVID-19 yakni provinsi DKI Jakarta. Tetapi hemat saya, strategi ini perlu untuk dijalankan diseluruh wilayah Indonesia untuk pencegahan peningkatan penularan COVID-19 kepada masyarakat termasuk di wilayah Nusa Tenggara Timur. Dalam pelaksanaannya strategi ini memiliki 5 senjata utama yakni Kegiatan Promosi Kesehatan, berupa Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kegiatan ini dilakukan oleh tenaga kesehatan dan masyarakat umum.

Kegiatan Perlindungan Khusus, berupa Pengawasan Pelaksanaan Social/Physical Distancing, kegiatan ini di pegang oleh RT/RW dan TNI POLRI, Kegiatan Diagnosis Dini dan Pengobatan Segera, berupa; Sistem surveilans Covid-19, kegiatan ini dilakukan oleh IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat) dan petugas kesehatan lainnya dari Puskesmas.

Kegiatan Disability Limitation dilakukan oleh masyarakat dan petugas kesehatan. Terakhir Kegiatan Rehabilitation, berupa; Mitigasi Dampak Sosial Ekonomi menjadi tanggungjawab Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama,RT/RW, ibu PKK dan sebagainya.

Bertolak dari nomenklatur strategi ini yakni Perang Akar Rumput, strategi ini dilaksanakan mulai dari tingkat pemerintahan yang paling bawah yakni pada tingkat RT/RW agar dapat dilakukan dengan efektif dan efisien serta melibatkan seluruh elemen masyarakat. Lebih khusus dapat dijalankan dalam anggota keluarga untuk saling mengontrol agar tetap melakukan adaptasi kebiasaan baru COVID-19 ini.

Tentunya strategi ini tidak boleh disentuh oleh berbagai macam kepentingan-kepentingan yang berpotensi menimbulkan konflik dalam masyarakat. Pada intinya, strategi ini dilakukan dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat umum.

CorpsNews.Com

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...