Kategori
Inspirasi

Pemimpin Idaman Rakyat Malaka

70
Benyamin Mali

 

 

 

Oleh: Benyamin Mali
Malaka Diaspora Asli KLETEK, Dosen di Jakarta, Alumnus S2 FISIPOL Universitas Indonesia

Pengantar

Judul tulisan ini saya ambil dari judul satu Youtube yang dikirim melalui group WA. Saya tidak membuka Youtube itu karena begitu terpesona dengan judul yang tertulis di situ. Terpesona karena di dalamnya terbayang ‘sesuatu’ yang begitu real dan aktual terkait perkembangan politik Malaka kontemporer.

Pertama, judul itu menyiratkan ketidakpuasan rakyat Malaka terhadap kepemimpinan Stefanus Bria Seran (SBS) selama 5 tahun ini, terlepas dari berapa persen persisnya jumlah rakyat yang tidak puas, dan terlepas dari siapakah yang nanti akan keluar sebagai pemenang pilkada. Ketidakpuasan ini dapat dibaca dari animo masyarakat terhadap kampanye SBS di banyak tempat yang konon-kabarnya hanya dihadiri oleh segelintir orang, hingga insiden pelemparan mobil Ketua Tim Pemenangan SBS dalam perjalanan menuju salah satu lokasi kampanye.

Kedua, judul itu pun menyiratkan adanya upaya masyarakat ‘mencari’ seorang figur idaman untuk memimpin mereka sekaligus membangun Malaka dalam semua dimensinya. “Mencari” menyiratkan “ke-belum-an” – jika tidak mau menyebutnya suatu “vaccuum”, “kekosongan” – dalam menemukan figur pemimpin Malaka yang mumpuni, yang memenuhi harapan, dambaan, dan idaman hati rakyat Malaka. Tegasnya hal ini mengandung arti : “SBS bukanlah figur idaman rakyat Malaka”. Dan karena kontestan pilkada Malaka 2020 ini hanya dua pasangan, maka Simon Nahak adalah figur potensial yang sangat boleh jadi merupakan figur idaman rakyat Malaka yang selama ini dicari. Bahwa ada seruan bahkan teriakan “ganti bupati” dari masyarakat di tempat kampanye SN-KT, hal ini dapat dibaca sebagai letupan-letupan kekecewaan terhadap figur SBS. Apalagi di daerah tertentu, laki-laki dan perempuan bersama-sama memikul baliho SN-KT untuk didirikan di pinggir jalan. Ini tanda-tanda yang semakin jelas menunjukkan keberpihakan rakyat kepada figur SN-KT.

Dengan pengantar ini, saya mau bicara tentang “PEMIMPIN IDAMAN RAKYAT MALAKA”. Saya berharap semoga tulisan ini menjadi bacaan waktu senggang yang menarik bagi seluruh rakyat Malaka, khususnya para (calon) pemimpin Malaka, sekarang dan di waktu-waktu yang akan datang.

Secuil Catatan Awal

Kata ‘idaman’ terkait erat dengan kata “harapan, dambaan, kerinduan”, dan ‘hati’. Dengan kata ‘harapan’, ‘dambaan’, dan ‘kerinduan’, kata ‘idaman’ menemukan padanan dan kembarannya. Sementara dengan kata ‘hati’, kata ‘idaman’ menemukan sumber asal-usulnya. Di dalam kata ‘hati’, kata ‘idaman’ mendapatkan kesempurnaannya dan menjadi sempurna. Ini nyata dalam ungkapan: “idaman hati’. Artinya: “apa yang (selama ini) diharapkan, didambakan, dan dirindukan “oleh hati”: hatiku, hatimu, hatinya, hati kita, HATI RAKYAT MALAKA.

“Oleh hati” artinya oleh seluruh pribadi seseorang, lantaran “hati” merupakan intisari kepribadian manusia. Ungkapan “idaman hati” mengandung makna “idaman seorang pribadi” dalam totalitas dirinya sebagai manusia, dalam keutuhan dirinya sebagai makhluk yang ber-akal budi (RATIO, CIPTA), yang ber-kemauan, ber-keinginan, dan ber-kehendak (AFFECTIO, KARSA), dan yang ber-perasaan (EMOTIO, RASA, PERASAAN). Ratio, affectio, dan emotio merupakan tiga daya psikologis yang membentuk keutuhan pribadi seorang manusia. Ketiganya menjadikan manusia makhluk ciptaan Allah yang luhur-mulia dan berbeda dari ciptaan lainnya. Di dalamnya harkat dan martabat manusia terukir dengan tinta emas.

Analogi yang tepat untuk menjelaskan ‘hati sebagai intisari kepribadian manusia’ ini, saya ambil dari salah satu tradisi penghayatan iman umat Katolik, yaitu DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS. Jika umat Katolik berdevosi kepada HATI KUDUS YESUS, itu TIDAK berarti bahwa mereka menaruh perhatian dan hormat khusus, serta berdoa khusus kepada HATI atau JANTUNG (Fisik) Yesus yang ditembusi tombak algojo Romawi dan yang mengeluarkan darah dan air (Yohanes 19:31-37), MELAINKAN mengandung arti bahwa mereka menaruh perhatian dan hormat khusus serta berdoa khusus kepada Yesus dalam keutuhan-Nya sebagai Pribadi: ALLAH sekaligus MANUSIA, yang berbelas kasih, yang mencintai manusia hingga sehabis-habisnya, yang mengorbankan nyawa-Nya dengan mati di salib demi keselamatan manusia.

Pemimpin idaman adalah pemimpin yang mampu memperlihatkan keseimbangan antara tiga daya psikologis di atas. Bila selama masa-masa pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi, ketiga daya psikologis ini tidak dididik, dibentuk sebagai suatu keutuhan (wholeness) yang seimbang dalam diri seseorang, maka jangan berharap banyak bahwa di kemudian hari, ketika dia menjadi pemimpin, di bidang apa pun, termasuk bidang politik, dia akan memperlihatkan suatu karakter atau kepribadian yang seimbang; ia sebaliknya akan menunjukkan karakter yang ‘miring’, ‘tidak seimbang’. Kecerdasan akalnya (IQ) yang mungkin tinggi tidak dia imbangi, misalnya, dengan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi pula.
Ketidakseimbangan psikologis antar ketiga daya itu sudah pasti akan tampak, kecuali ada “mukjizat” yang secara supranatural membuatnya sadar untuk mengubah karakternya.

DARI MANA ATAU DI MANA KITA MULAI?

RAKYAT Malaka mencari figur pemimpin idaman karena tampaknya ada ‘sesuatu’ yang tidak berkenan di hati mereka dengan performance pemimpin yang sekarang, entah apalah persisnya ‘sesuatu’ itu. Pertanyaannya ialah “dari mana atau di mana percarian itu dimulai?”

Mulailah dari ‘manusia’-nya sendiri, dari KATA dan PERBUATAN-nya, yang merupakan hal paling mendasar dan paling pribadi yang menggambarkan secara paling pasti dan meyakinkan siapa ‘pemimpin idaman’ itu. Mengapa?

Pertama, karena KATA dan PERBUATAN, LISAN dan LAKU seseorang memberi isyarat paling pasti dan meyakinkan apakah dia pantas disebut pribadi ‘idaman’ atau tidak. Di dalam kata dan perbuatan, seseorang menyingkapkan ‘siapa dia sesungguhnya’, apakah dia menjadi KABAR GEMBIRA atau KABAR BURUK bagi sesamanya, bagi rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin idaman adalah dia yang selama ini diharapkan kedatangan dan kehadirannya di tengah semua yang sudah hilang harapan, yang sudah putus asa, yang sudah tak mampu bersuara.

Kedua, karena rakyat itu manusia. Memimpin ‘rakyat’ berarti memimpin ‘manusia’, BUKAN memimpin ‘binatang’ berkaki dua dengan struktur tubuh berdiri tegak dilengkapi dua pasang mata di depan, dan dua pasang kuping di sisi kiri dan kanan kepalanya’! Memang, manusia itu ‘binatang’ juga. Namun binatang satu ini dikatakan punya: (a) ‘akal-budi’ untuk berpikir dan merenung, menjelajah semesta alam dan menghasilkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan (ratio, cipta); (b) ‘hati’ untuk berkehendak, kehendak bebas, kebebasan (hati, karsa, affectio); dan (c) ‘perasaan’ untuk menanggapi semua rangsangan dari luar (emotio, cinta dan benci, gembira dan sedih, marah karena tersinggung, dan ramah karena aman-damai-sentosa).

Atas dasar itu pemimpin idaman adalah orang yang menjunjung tinggi ‘kemanusiaan’, yang tercermin di dalam KATA dan PERBUATAN, LISAN dan LAKU. Kata-kata tercermin di dalam perbuatan-perbuatan, dan perbuatan-perbuatan meneguhkan kata-kata.
Dengan begitu, “kata dan perbuatan adalah SATU”. Itulah yang disebut KEBENARAN: “kesesuaian antara alam pikiran dan realitas.” Bila berkata A maka realitasnya juga hendaknya A. Inilah yang disebut pemimpin pembawa pengharapan, pembawa perubahan. Selain dari itu namanya TIPU MUSLIHAT, KEBOHONGAN dan PEMBOHONGAN, yang sumbernya datang dari si Jahat.”

Dalam konteks ini, seorang pemimpin hendaknya mempertimbangkan dalam setiap KATA dan PERBUATAN-nya TIGA PRINSIP DASAR ORIENTASI ETIS:

(1) kesamaan: pemimpin dan yang dipimpin itu sama-sama ‘manusia’: [a] sama di depan hukum; [b] sama di dalam politik; [c] sama dalam hidup bermasyarakat – tiada TUAN-RAJA dan hamba sahaya!); dan [c] sama dalam peluang berusaha.

(2) kebebasan: sama-sama diciptakan ‘bebas’ oleh Tuhan, sehingga sama-sama punya kebebasan, yang tentu saja tidak 100% karena dibatasi oleh kebebasan orang lain dan aturan hidup bersama (hukum dan norma-norma).

(3) solidaritas : kesetiakawanan, senasib-sepenanggungan, yang kuat sedapat mungkin membantu yang lemah, bukan menindas yang lemah. Wilayah Malaka dimekarkan menjadi sebuah Daerah Otonomi Baru (DOB), karena kita sama-sama menginginkannya dan sama-sama berjuang untuk mewujudkannya berapa pun dan apa pun ongkosnya. Solidaritas harus terus dikumandangkan dan diperjuangkan di Tanah Malaka, agar putra-putri SABETE-SALADI ini HAKTAEK NO HAKNETER satu sama lain, BUKAN sikut-menyikut, sundul-menyundul, tendang-menendang. Maka *“politik boleh politik, namun di atas politik ada KEMANUSIAAN,”* demikian kata Gus Dur, almahrum mantan presiden kita.

Dengan demikian, PEMIMPIN IDAMAN RAKYAT MALAKA adalah pemimpin kemanusiaan, yang berada di depan, di tengah, dan di belakang RAKYAT, yang adalah juga manusia-manusia yang berakal-budi, berhati nurani, dan berperasaan. Bila ada yang akalnya pas-pasan dan karena itu sering ‘kepala-batu dan kepala-angin’, berilah dia ‘pengertian’ terus-menerus. Bukan meneriaki dia dengan kata-kata yang ‘tidak manusiawi’, ‘tidak beradab’.
Inilah PENGORBANAN dan PANGGILAN HIDUP seorang pemimpin, suatu pekerjaan yang dikehendakinya sendiri dengan mencalonkan diri menjadi pemimpin. Memang tidak mudah! Tetapi: “Siapa suruh datang Jakarta…Siapa suruh jadi pemimpin.”

Bijaklah Dalam Memilih

Pilkada Malaka 2020 ini hanya menampilkan dua pasang anak kandung Malaka yang akan head to head memenangkan pertarungan. Yang satu petahana, yang lain pendatang baru. Dua-duanya sama-sama mengaku dipanggil untuk mengabdi Tanah Malaka dan sama-sama mengaku pantas dan layak dipilih.

Bedanya ialah dalam kampanye, yang petahana bercerita tentang SUKSESnya dengan menunjuk BUKTI-BUKTI, entahlah bukti-bukti suksesnya berkualitas atau abal-abal menggelikan. RAKYAT Malaka-lah yang menilai. Setiap kali kampanye di mana pun, sang petahana berteriak: “Saya datang tidak untuk BERJANJI, saya datang untuk menunjukkan BUKTI”, kendatipun kadang-kadang masih juga ada selipan ‘janji’.Sementara sang Pendatang Baru belum bisa menunjukkan BUKTI PENGABDIAN yang konkret, karena memang belum menjabat. Namun itu tidak berarti dia tidak punya “succes story” yang bisa dibanggakan. Ia memiliki INTEGRITAS DIRI yang prima. Ia berpengalaman sebagai dosen dan pengacara sukses di Tanah Bali. Ia punya relasi yang baik dengan pemerintah daerah setempat di Pulau Bali, sering dimintai untuk turut serta menyelesaikan masalah-masalah hukum di Bali. Juga pengalaman bagaimana menjadi penolong bagi banyak mahasiswa di Jawa, khususnya yang ada di Pulau Dewata Bali, khususnya mereka yang terkena kasus-kasus, antara lain kasus Narkoba. Bila dia bisa memberi pertolongan kepada anak-anak Malaka di tanah Bali, bagaimana mungkin dia tidak bisa melakukan itu bagi seluruh rakyat Malaka di tanah Malaka dengan siap menjadi Pemimpin Idaman Rakyat Malaka? Pengalaman mengajarkan kebenaran hukum dan sukses membela banyak orang yang bermasalah, itulah BEKAL-BEKAL yang memberanikan dia maju bertarung. Dan dia yakin, bahwa Tuhan-lah yang menyuruhnya pulang ke tanah kelahirannya untuk mengabdi dan menolong menyelamatkan lebih banyak orang. Bahkan bukan saja RAKYAT Malaka, tetapi juga Kabupaten Malaka.
MANA YANG MENJADI IDAMAN RAKYAT MALAKA? SILAKAN MEMILIH SESUAI BISIKAN NURANI MASING-MASING!
Shalom


Jakarta, Minggu 11 Oktober 2020

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...