Bawaslu: Simulasi Pemungutan Suara KPU Belum Maksimal

Bawaslu: Simulasi Pemungutan Suara KPU Belum Maksimal

70
Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar saat kegiatan Simulasi Pemungutan Suara di Kabupaten Idramayu, Sabtu 29 Agustus 2020.

Corpsnews, Indramayu – Badan Pengawas Pemilihan Umum – Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar memberikan beberapa catatan terkait simulasi pemungutan suara yang dilaksanakan KPU RI di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Fritz  menilai simulasi pemungutan suara setidaknya dapat merepresentasikan situasi pada hari H pemungutan dan penghitungan suara sebenarnya dilaksanakan.

“Ini ada beberapa hal yang harus dipersiapkan lebih matang,”  kata Fritz saat menghadiri Kegiatan Simulasi Pemungutan Suara di Kabupaten Indramayu, Sabtu (29/08/2020).

Pria yang disapa Fritz mengungkapkan masih ditemukan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dengan Nomor Induk Kependudukannya (NIK) yang lengkap. Menurutnya, meskipun dalam kegiatan simulasi seharusnya dalam DPT yang muncul adalah NIK dengan lima atau empat angka belakang yang sudah diganti bintang.

“Hal itu dalam rangka perlindungan data pribadi dan hak pilih,” ungkap Fritz.

Selanjutnya dalam simulasi masih terlihat terjadi penumpukan antrian. Fritz  menyoroti pemilih yang membawa anak-anak dan antrian yang terlalu rapat. Menurutnya perlu dilihat apakah jarak antriannya sudah sesuai dengan standart protokol kesehatan.

“Hal ini harus menjadi perhatian,” tegas Fritz.

Koordinator Divisi Hukum Bawaslu RI itu juga menyarankan pembagian sarung tangan tidak menggunakan skenario setelah pemilih dilakukan pemeriksaan. Menurutnya akan lebih efektif jika dibagikan saat pemilih mengantri.

“Sejak memasuki TPS pemilih sudah mendapatkan sarung tangan jadi bukan saat berada di dalam TPS sehingga proses mengantri di dalam juga tidak terlalu lama,” ungkap Fritz.

Loading...

Pria kelahiran Medan itu juga memberikan catatan terhadap petugas KPPS. Dia mengatakan akan ada fasilitas cuci tangan di setiap TPS tapi tidak terlihat petugas KPPS mengarahkan pemilih yang datang untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Selanjutnya penggunaan tinta oleh pemilih yang masih ditempelkan (dilap) pada kain sehingga menjadi potensi terjadinya sentuhan antara pemilih melalui kain.

“Bicara untuk tidak terjadi cluster baru Covid-19, itu juga harus dipikirkan tidak saja di dalam TPS tapi juga saat berada di luar TPS dan ini harus menjadi bagian yang harus diperhatikan (KPU),” ungkap Fritz.

Fritz juga mengingatkan petugas KPPS selalu memeriksa jari-jari  orang yang datang ke TPS terlebih dahulu, ini dimaksudkan untuk melihat pemilih sudah melakukan pencoblosan atau belum.

“Kembali lagi ini namanya simulasi, jadi dipastikan itu harus dilakukan,” ujarnya.

Loading...

Selain memberikan beberapa masukan, Fritz juga mengucapkan terima kasihnya kepada KPU karena beberapa masukan sudah diakomodir sehingga mempermudah akses bagi pemilih disabilitas.

“Meskipun tadi ada pemilih disabilitas tuna netra, kita melihat bahwa proses untuk pendampingannya dan juga bagaimana proses dia mencoblos juga disaksikan oleh saksi,” ujarnya.

Fritz Edward Siregar, menghadiri simulasi pemungutan suara  yang dilakukan oleh KPU ini bersama dengan Pimpinan dan Struktural Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Pimpinan Bawaslu Indramayu serta dari Bawaslu Kabupaten/Kota sekitar yang juga melaksanakan pilkada.

Simulasi KPU dalam rangka hari pemungutan suara tanggal 9 Desember 2020 yang dilaksanakan di Indramayu ini merupakan Simulasi KPU yang kedua. Sebelumnya, KPU menyelenggarakan Simulasi pertama di Kantor KPU di Imam Bonjol, Jakarta. (Bawaslu)

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat