Ketidakberdayaan Penegak Hukum Internasional Mengadili Oknum Pejabat Indonesia

Ketidakberdayaan Penegak Hukum Internasional Mengadili Oknum Pejabat Indonesia

75

Corpsnews, Tasikmalaya – Sultan  Patra Kusumah VIII, akan menjawab sebuah pertanyaan publik bahkan publik secara internasional.

Kejahatan HAM
Mulai kasus Tanjung Priuk kasus Timor Timur
Dan kasus reformasi 1998 Dan kasusdua satu dua 2019 Petamburan.

yang paling perlu di garis bawahi tentang kasus pencetakan uang di Australia bakal benar atau tidaknya kasus tersebut masih belum bisa ada yang mengungkapkan secara betul-betul benar atau tidaknya kasus tersebut.konon cerita kasus tersebut diawali dengan tentang adanya kasus perampasan dana terhadap grantor yang diserahkan di armada 7 Bali 1997.

Dan percetakan uang ilegal Laos Jerman Dan lain lain,
Dan percetakan uang yang dilakukan semenjak 2004 sampai saat ini Diduga tanpa ijin jaminan dan lesensi .Ujar Rohidin menyampaikan kepada awak media

Semoga dengan tulisan ini akan membuat penegak hukum nasional maupun international bergerak dan bangkit dari tidurnya,Karena dalam kasus diatas para pelanggar itu sudah bukan lagi jendral aktif jadi apa yang menjadi penghalang untuk para jendral saat ini keculali kalau diantara mereka adalah keluarganya .

Kalau masalah ini tidak segera dibuka dan diselesaikan kapan negara mau maju dan bebas dari cengkraman para penjahat,inilah dasar yang harus kita garis bawahi, karena tujuan akhir dari pada tindakan yang harus dilakukan sesuai Mahkamah Internasional itu akan membuat sesuatu hal yang positif sehingga akan lebih memajukan tingkat teantang sistem-sistem yang mampu meminimalisir sistem kejahatan yang ada di dunia khususnya negara Indonesia.

maka dalam hal ini Saya menyarankan setiap kejahatan adalah mengarah terhadap tindakan-tindakan yang akan dan harus melibatkan hukum secara internasional atau International court of Justice.

Loading...

belum lagi kejahatan-kejahatan yang akan saya jelaskan di bawah ini,karena sampai saat ini masih belum ada tindak lanjut atau kejadian hukum secara yuridis yang bener-bener tuntas dengan optimal.

maka dalam hal ini saya akan Jelaskan beberapa pelanggaran hukum yang patut dan harus jadi pertimbangan dewan Mahkamah Internasional sehingga ini akan menjadi bahan referensi bahwa ketidakberdayaan ketidakmampuan atau adanya kerjasama atau ada hal-hal lain yang membuat internasional court of Justice belum bisa membawa Semua kasus pelanggaran pelanggaran hukum khususnya pelanggaran HAM yang ada di Indonesia masih belum bisa kita lihat tindakan hukum tersebut dibawa ke Mahkamah Internasional hingga tuntas permasalahan hukum secara yuridis Justice tidak memandang letak kesalahan dan letak hukum juga letak yuridiksi antar negara.

Bukankah persatuan Bangsa bangsa dibentuk untuk membuat suatu keputusan secara voting bahkan membuat suatu peraturan tentang hukum salah satunya secara Mahkamah Internasional, masih dalam pertanyaan dan masih dalam teka-teki dan kami pun masih mempelajari Apakah hukum internasional itu mempunyai dasar-dasar hukum atau tidak mempunyai dasar hukum atau mampu dan tidak mampu untuk melakukan hukum yang seadil-adilnya hukum internasional court of Justice atau Mahkamah Internasional yang bisa mengadili setiap pelaku kejahatan baik itu pelanggaran HAM maupun pelanggaran-pelanggaran hukum yang dinilai penting untuk dibawa ke Mahkamah Internasional sehingga negara-negara di bawah naungan persatuan bangsa-bangsa akan semakin takut dan persatuan bangsa-bangsa akan semakin kuat juga akan disegani oleh bangsa-bangsa lain yang termasuk didalamnya.

Meski Indonesia adalah negara yang relatif kecil, namun ada cukup banyak kasus pelanggaran HAM yang terjadi.

Loading...

Mari kita kutip sejarah ke belakang tentang kejahatan HAM yang ada dan sudah terjadi sehingga bukan asia publik untuk bahan referensi dan juga bahan bacaan jika bahan kajian bagi semua orang yang peduli terhadap hukum yang jelas dan hukum yang Saleh akhirnya.

Tragedi Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998.

Dalam tragedi ini terjadi peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti.

Pada tahun 1998, terjadi krisis moneter yang berakibat ke banyak sektor.

Keadaan ini mengundang aksi protes mahasiswa.

Pada tanggal tersebut mahasiswa Universitas Trisakti mengadakan longmarch menuju gedung MPR/DPR untuk kemudian melakukan demo.

Namun, sebelum sampai di gedung tersebut, aksi ini ditentang oleh polisi.

Setelah kedua pihak berunding, disepakati bahwa Polisi dan mahasiswa sama-sama mundur.

Saat mahasiswa mundur kembali ke kampus mereka, terjadi sebuah provokasi yang menyebabkan beberapa mahasiswa terpancing.

Akhirnya kerusuhan pun terjadi, polisi melakukan penembakan sehingga empat mahasiswa tewas dan beberapa luka-luka.

masih ingatkah kita terhadap aktivis HAM yang bernama Munir.

Munir Said Thalib adalah seorang aktivis HAM.

Ia telah banyak melakukan pembelaan hukum pada orang-orang tertindas.

Salah satunya adalah menjadi pembela keluarga korban penculikan paksa yang terjadi pada tahun 1997 dan 1998.

Munir juga merupakan pengkritik pemerintah yang berkuasa saat itu.

Di tahun 2004, Munir ditemukan tewas dalam pesawat yang menuju Amsterdam.

Hasil autopsi yang dilakukan oleh tim forensik Belanda menemukan adanya senyawa arsenik dalam jasad Munir.

Hasil ini mengindikasikan bahwa aktivis HAM ini sengaja diracun oleh pihak tertentu yang bermaksud menyingkirkannya.

lalu yang sangat betul-betul harus kita menjadikan sebuah sejarah tentang kejahatan yang terjadi di Tanjung Priok.

Peristiwa Tanjung Priok terjadi pada 12 September 1984.

Berdasarkan hitungan resmi, peristiwa ini menyebabkan 24 orang tewas serta 54 orang terluka.

Akan tetapi, menurut perkiraan, ada lebih dari lebih dari 100 warga Tanjung Priok yang tewas, hilang, ataupun terluka.

Peristiwa ini diawali dengan kedatangan anggota Bintara ke Masjid As Saadah yang berlokasi di Tanjung Priok.

Ia memerintahkan pengurus masjid tersebut untuk melepas spanduk yang berbau kritik pemerintah.

Pihak masjid menolaknya dan anggota Bintara ini melepas atribut-atribut tersebut dengan cara masuk ke masjid tanpa melepas alas kaki.

Tindakan tersebut sangat tidak sopan dan menyulut kemarahan pengurus masjid beserta warga.

Mereka membakar motor dan menyerang anggota Bintara tersebut.

Pengurus masjid dan warga yang menyerangnya kemudian ditangkap.

Dua hari setelah penangkapan tersebut, warga muslim Tanjung Priok melakukan aksi protes untuk membebaskan kawan mereka.

Aksi ini dilakukan oleh ribuan orang namun tidak berhasil.

Kerusuhan pun terjadi dan pihak militer menembaki demonstran.

Selain korban tewas dan luka, kerusuhan ini juga mengakibatkan banyak orang ditahan.

apalagi seorang pekerja buruh bernama Marsinah.

Marsinah adalah seorang buruh pabrik di Jawa Timur dan juga aktivis pada zaman Orde Baru.

Pada tahun 1993, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan surat edaran yang berisi agar perusahaan di Jawa Timur menaikkan upah buruh sebesar 20% dari gaji pokok.

Akan tetapi PT tempat Marsinah bekerja, PT Catur Putra Surya, tidak terlalu setuju dengan himbauan ini.

Akibatnya, Marsinah dan kawan-kawannya mogok kerja dan melakukan demonstrasi pada tanggal 3 dan 4 Mei 1993.

Selain demonstrasi, Marsinah beserta 13 perwakilan buruh juga melakukan perundingan dengan pihak pabrik.

Pada tanggal 5 Mei, siang harinya, 13 teman Marsinah ditangkap Kodim Sidoarjo karena tuduhan menghasut para buruh agar tidak masuk kerja dan mengadakan rapat gelap.

Mereka dipaksa untuk mengundurkan diri. Marsinah kemudian datang ke Kodim untuk menanyakan dimana rekan-rekannya.

Malamnya, Marsinah menghilang.

Teman-temannya tidak ada yang tahu keberadaannya.

Mereka mencarinya selama tiga hari namun tidak menemukannya.

Marsinah baru ditemukan pada 8 Mei 1993 dalam keadaan meninggal.

Hasil autopsi menyebutkan bahwa Marsinah mengalami penyiksaan berat.

dan yang paling kita ingat juga kejadian pelanggaran HAM di Aceh.

Pada tahun 1990 hingga 1998 terjadi pemberontakan rakyat Aceh.

Salah satu sebabnya adalah karena mereka tidak puas dengan pemerintah sehingga ingin memisahkan diri.

Oleh karenanya, pemerintah Indonesia mengadakan operasi militer di provinsi ini.

Akibat dari operasi militer ini, ada beberapa kasus pelanggaran HAM yang terjadi.

Operasi ini tidak hanya menewaskan pemberontak namun juga warga sipil.

Banyak warga Aceh yang meninggal akibat operasi ini.

Menurut catatan, ada sekitar 9 ribu hingga 12 ribu korban jiwa yang jatuh dalam operasi militer yang berlangsung selama 8 tahun ini.

Belum lagi kejahatan lainya seperti bom bali.

Bom Bali adalah aksi terorisme yang mengakibatkan ratusan korban tewas dan luka-luka.

Aksi terorisme ini dilakukan oleh kelompok teroris Solo dan Serang.

Beberapa pelakunya adalah Imam Samudra, Amrozi, dan Dulmatin.

Ada dua peristiwa bom Bali yang terjadi.

Yang pertama adalah pada tanggal 12 Oktober 2002.

Pada saat itu, bom meledak di Kuta.

Bom ini menyebabkan 202 orang tewas dan 209 luka-luka.

Sebagian besar korban tersebut adalah wisatawan asing.

Yang ke-dua terjadi pada tanggal 1 Oktober 2005.

Ada tiga bom yang meledak pada malam itu, 1 di Kuta dan 2 di Jimbaran.

Bom ini menewaskan 23 orang, 4 diantaranya adalah wisatawan asing dan 3 adalah teroris.

semenjak dulu sebelum Reformasi bahkan Agresi Militer pun mengakibatkan terjadinya tindak kejahatan di Kampung Rawa gede di Karawang.

Pada agresi militer pertama, tepatnya 9 Desember 1947, terjadi pembantaian di kampung ini yang dilakukan oleh Belanda.

Pembantaian Rawagede menewaskan 431 penduduk.

Kurang lebih setahun kemudian, Belanda kembali menyerang kampung ini tanpa alasan.

Sebanyak 35 warga Rawagede tewas akibat serangan ini.

Pengadilan HAM Internasional baru memproses kasus ini berpuluh-puluh tahun kemudian.

Pada September 2011, pengadilan memutuskan bahwa pemerintah Belanda bersalah dan harus bertanggung jawab serta memberikan kompensasi kepada keluarga korban pembantaian ini.

dan yang paling mengenaskan lagi terhadap para aktivis Yang kita tahu pada era reformasi atau kejadian aktivis pada tahun 1997-1998

Pada tahun 1997 dan 1998, Indonesia mengalami pergolakan yang cukup hebat.

Ketidakpuasan terhadap pemerintah membuat banyak aktivis semakin vokal menyuarakan penolakan pada pemerintah.

Keadaan genting menjelang pemilu 97 dan menjelang Sidang MPR 98 ini berbuntut penghilangan orang secara paksa.

Sebanyak 23 aktivis hilang pada periode tersebut. Sembilan diantara mereka dilepaskan kembali.

Satu korban ditemukan tewas.

Dan 13 korban hilang, lainnya tidak pernah kembali hingga kini.

Penculikan yang dilakukan oleh aparat negara ini terjadi di Solo, Lampung, dan paling banyak di Jakarta.

dilanjutkan dengan tragedi Semanggi.

Tragedi semanggi terjadi dua kali, yaitu Tragedi Semanggi I dan Tragedi Semanggi II.

Tragedi Semanggi I terjadi pada November 1998.

Masa transisi pemerintahan dari Orde Baru ke Reformasi mengakibatkan banyak kekacauan.

Alhasil, demo besar-besaran pun terjadi. tragedi ini menyebabkan 17 orang tewas.

Tragedi Semanggi II terjadi pada September 1999.

Aksi-aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa mengakibatkan reaksi keras militer yang berjaga.

Bentrok massa dan aparat ini menyebabkan satu mahasiswa tewas di Jakarta, 2 mahasiswa tewas di Lampung, dan satu tewas di Palembang.
belum lagi pembantaian badan lain seperti pembantaian Santa Cruz.

Pembantaian Santa Cruz terjadi di Dili, Timor Timur, pada tanggal 12 November 1991.

Tragedi ini diawali dengan rencana kedatangan anggota parlemen Portugal dan 12 wartawan.

Akan tetapi, pemerintah Indonesia keberatan dengan kedatangan salah satu perwakilan wartawan yang berkebangsaan Australia.

Wartawan ini dicurigai mendukung kemerdekaan Timor Leste.

Mahasiswa yang mengetahui pembatalan ini pun merasa sangat kecewa.

Buntut kekecewaan ini adalah terjadinya konfrontasi antara pihak pro integrasi dan pihak pro kemerdekaan pada tanggal 28 Oktober 1991.

Konfrontasi ini menyebabkan dua orang tewas, Sebastiao Gomes dari pro kemerdekaan dan Afonso Henriques dari pro integrasi.

Mahasiswa menjadi semakin marah, mereka pun mengadakan aksi protes saat proses pemakaman Gomes.

Ketika jenazah Gomes dibawa ke tempat pemakaman, militer Indonesia menembaki para pelayat dan pendemo.

Akibat serangan ini, 271 orang tewas, 250 orang menghilang, dan 382 orang terluka.

Contoh kaus pelanggaran HAM di atas membuktikan bahwa pelanggaran hak asasi manusia dapat terjadi di negara mana saja, entah itu negara besar ataupun kecil.

Contoh-contoh tersebut juga membuktikan bahwa kekuasaan menjadi salah satu penyebabnya.

Pergolakan politik, konflik etnis, dan penguasa diktator dapat menyulut terjadinya pelanggaran HAM.

setiap kejahatan setiap referensi kejahatan untuk apapun dan dengan dari apapun itu adalah kejahatan tetapi ketika kejahatan sudah tidak bisa dituntaskan dasar hukum nasional maka hukum internasional maju ke depan dan menggarisbawahi bahwa hukum hukum internasional itu harus dilakukan secara yuridiksi dan secara ketetapan-ketetapan yang terbentuk berdasarkan kesatuan bangsa bangsa melalui mahkamah internasional Internasional court of Justice.

karena menurut saya ketetetapan sistem yang berlaku tidak diubah secara ketentuan hukum internasional, maka tetap saja akan banyak perlakuan-perlakuan lainnya yang akan mengakibatkan hak seseorang terampas dan juga nyawa seseorang yang hilang akibat keganasan kejahatan ham, atau kejahatan yang meliputi kejahatan secara global yang harus benar-benar melibatkan mahkamah internasional,agar bisa dituntaskan juga agar bisa menjadi terapi untuk para pelanggar hukum baik itu masyarakat pejabat maupun orang-orang yang berkepentingan di negara khususnya negara Indonesia.

sekalipun Presiden itu perlu diadili secara Mahkamah Internasional karena inilah bentuk dari pada unsur-unsur yang harus dilakukan atas dasar berdirinya perserikatan bangsa-bangsa yang mengharuskan adanya kerjasama baik itu hubungan bilateral msupun diplomatik juga hubungan-hubungan lain yaitu prosesnya masalah hukum bisa terselenggara secara internasional dan terkoordinir secara profesional.

Tim sumber :  Sultan Patra Kusumah VIII

 

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat