Cerpen: Jumpa Bayangan

Cerpen: Jumpa Bayangan

68
Johand Neno

Cerpen” Johand Neno

Tok…tok…tok…bunyi ketukan pintu. ah,,,itu Katarina adikku. baru saja pulang. kantuk,,,tidur lagi ahh…sambil menguap aku membalikkan badan searah jendela kamar.

Beberapa menit kemudian, terdengar sentakan kaki menuju pintu kamarku. sentakaan kaki itu mengingatkan aku pada dia yang pergi beberapa tahun silam itu. sentakan kaki itu persis makin mendekat menuju pintu kamarku yang terbuat dari seng bekas gelisah,takut dan penasaran siapakah yang hendak menghampiriku kataku dalam hati. akupun tidak begitu gubris akan godaan itu. sambil menghela napas kembali dirayu penglihatan hingga tertidur.

Bebrapa menit kemudian, aku dibangunkan dengan sebuah mimpi buruk. ya mimpi buruk yang begitu menakutkan. aku terbangun saat ingatku aku masih ada sebuah tugas yang harusku selesaikan saat itu. Menghembuskan napas kecapaian, sambil berjalan perlahan seakan diiringi lantunan music kecapi menuju meja belajarku, sambil membongkar-bangkir bukuku yang terletak persih di atas meja.

Satu tugas telah aku selesaikan tepat pukul 12.00. hampir sebatang rokok habis dibakar, kantukkupun telah menjadi-jadi. ku putuskan untuk beristirahat karena hari kedua dalam minggu itu, akan ku presentasikan hasil kejaku. akunpun kembali ke tempat tidur, sambil memikirkan kejadian itu. ahh itu hanya firasaatku saja. ya itu firasatku.

Baru saja aku selimuti diri, terdengar ketokan persis bunyi ketokan pintu…tok…tok…tok..hallo ini aku,,,penasaran dengan suara itu. sapaan itu meyakinkanku. ternyata ada seorang yang datang menghampiri. aku mulai melawan kantukku, dan berjalan perlahan menuju pintu kamar sambil mengelus raut dengan belaian tangan kananku. Kubukakan pintu. ‘selamat malam’ ,,,Ia selamat malam juga jawabku. Aku menatapnya sambil tercengang melihat parasnya yang begitu mungil, seakan-akan aku telah dihipnotis dengan kecantikannya. arah pikiranku tertuju murni pada dia yang berdiri persis di samping pintu kamarku. hati dan jantung sebagai penggerak seluruh akalku, seakan-akan terhenti serentak.

Apa sebabnya? tanyaku dalam hati. Kamu…kamu telah pergikan? tanyaku padanya; jawabnya’ya’ seakan-akan dia adalah wanita mungil yang pernah hilang terlihat jelas pada bahasa tubuhnya.

Terdengar bunyi gemuruh yang sangat dasyat. aku tidak tahu darimana sumber gemuruh itu. aku terdiam sejenak sembari memfokuskan hati dan pikiran pada sumber gemuruh itu. seakan-akan saat itu adalah jiwa dan raga ku sendiri tanpa siapapun. aku tahu sumber gemuruh itu. ya aku tahu. beberapa menit kemudian, aku sadar ada seorang wanita ada bersamku saat itu. terasa hembusan angin malam dan bunyian rintihan butiran air hujan yang sedang mengalir dari subernya. hembusan angin malam dan rintihan butiran hujan itu, seiring dengan alur hati yang terasa teriris. benar teriris.

Loading...

Aku kembali berbalik pada wanita yang berada persis di hadapanku malam itu. sambil menatapnya aku mencoba merangkum bebrapa pertanyaan menjadi satu tanpa terpecah belah. mengapa diwaktu itu kamu harus pergi? tanyaku; pertanyaan ini seakan-akan berat dan sulit untuk menjawab sesuai kebenarannya. ia terdiam tanpa sepatah katapun. harapku, ia seharusnya memberi jawaban dengan nada manis yang terasa teriris. jawaban yang diberikan hanyalah diam…dan diam. mengapa ia sebatas diam? apakah semenjak kepergiaanya ia telah mengidap sebuah penyakit yang telah merusak saraf bicaranya? seruku dalam hati. akupun terpaku seakan-akan bius yang telah menenangkan amarahku. atas kebisuannya.

Sambil menghela napas, terdengar bunyian kicauan burung burung dan cahaya matahari memancarkan cahaya lewat sela-selah dinding kamarku. akupun terbangun dan bergegas mempersiapkan diri pada hari itu untuk memaparkan materi yang telah ku persiapkan malam tadi.

Penulis: Yohanes Neno Bau to Naek

Asal      : Laenmanen, Malaka-NTT

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat