Jelang Pilkada Serentak, Puluhan Juta Uang Palsu Dicetak di Solok

Jelang Pilkada Serentak, Puluhan Juta Uang Palsu Dicetak di Solok

73
Seorang pelaku sindikat pembuatan dan peredaran uang palsu, memperagakan cara membuat uang palsu di Polres Payakumbuh, kemarin. (IST)

Corpsnews, Solok – Masyarakat Kota Solok, Kota Padangpanjang dan Kota Payakumbuh, harus waspada dengan kemungkinan beredarnya uang palsu pecahan Rp 50 ribu dan pecahan Rp 100 ribu. Sebab, polisi di Payakumbuh baru saja membongkar keberadaan sindikat pembuat dan pengedar uang palsu. Di mana, dua anggota sindikat tersebut merupakan staf dua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Solok dan Padangpanjang.

”Total uang palsu yang sudah dicetak sindikat ini mencapai Rp 25,9 juta. Semua uang palsu itu dicetak di Kota Solok. Namun, ini baru keterangan dari dua anggota sindikat yang tertangkap. Kami masih terus melakukan pendalaman kasus. Polres Solok Kota sebagaimana disampaikan Kasat Reskrim-nya, juga sedang melakukan penyelidikan,” kata Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan kepada wartawan di Mapolres Payakumbuh, Senin (27/7).

Dalam kesempatan itu, AKBP Dony Setiawan ditemani Kasat Reskrim AKP M Rosidi sempat memperlihatkan dua anggota sindikat pembuat dan pencetak uang palsu yang sudah ditangkap Tim Reserse Mobile (Resmob) Polres Payakumbuh, dipimpin Bripka Serlinus Telaumbanua dkk. Kedua anggota sindikat pembuat dan pencetak uang palsu itu teridentifikasi sebagai Al Alif, 32, warga Desa Suka Kaya, Kecamatan Muara Saling, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan. Kemudian, Muhammad Ali, 24, warga Desa Durian Mas, Kecamatan Kota Padang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

Al Alif yang sehari-hari staf Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Karya Sampoerna Kota Solok, ditangkap Tim Resmob Polres Payakumbuh di kantornya, kawasan Batugadang, Kelurahan Simpang Rumbio, Kecamatan Sikarah, Kota Solok, Minggu sore (26/7). Sedangkan Muhammad Ali yang merupakan staf Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Ramora Kota Padangpangpanjang, ditangkap di “Kota Hujan” itu pada hari yang sama.

Menurut pengakuan Alif dan Ali, selain mereka juga ada satu orang lagi berinisial “W” yang diduga terlibat dalam komplotan pembuat dan pengedar uang palsu ini. Polisi di Payakumbuh masih mendalami keberadaan “W” dan perannya dalam kasus ini. “Masih kita gali, apakah benar atau tidak ada yang berinisial W itu,” kata AKBP Dony Setiawan.

Menurut AKBP Dony, sebelum Alif dan Ali ditangkap, Polres Payakumbuh mendapat laporan peredaran uang palsu dari Maizil, karyawan Toko Pagaruyuang Ponsel di Jalan Tan Malaka, Kelurahan Parik Muko Aia, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, Kota Payakumbuh. Dalam laporan pada Jumat malam itu (24/7), Maizil mengaku, dapat uang palsu senilai Rp 14,3 juta dari seorang pembeli handphone yang tidak dikenalnya.

Pembeli handphone yang setelah diungkap polisi diketahui adalah tersangka Alif itu, awalnya datang ke Toko Pagaruyuang Ponsel, selepas waktu Shalat Jumat atau bertepatan dengan terjadinya demonstasi menolak RUU HIP di Payakumbuh. “Waktu pertama datang, dia nanya-nanya harga handphone dan menyebut akan datang kembali jam delapan malam,” kata Yosi Nofioriski, 20, karyawati Toko Pagaruyuang Ponsel.

Namun, sebelum jam delapan malam, tepatnya selepas Maghrib, tersangka Alif sudah datang ke Toko Pagaruyuang Ponsel di Payakumbuh. Alif datang bersama Muhammad Ali. Namun, Ali hanya menunggu di atas sepeda motor Honda Beat BA 3491 HI yang dikemudikan dari Solok.

Loading...

“Setiba di toko, orang itu (Alif), langsung berbincang dengan saya dan rekan saya Jeli Apriosa. Kemudian, orang itu membeli 5 buah handpone. Masing-masing, 2 buah handphone Oppo Reno seharga Rp 10 juta. Kemudian, satu buah Iphone 7 Plus seharga Rp 6,5 juta dan dua buah Samsung lipat seharga Rp 500 ribu. Jadi, total belanjanya ada Rp 17 juta. Setelah membayar, dia langsung pergi,” kata Yosi yang sehari-hari tinggal di Napar, Payakumbuh Utara.

Begitu pembeli handphone dalam jumlah banyak itu pergi, Yosi bersama rekannya Jeli yang tinggal di Parambahan, Lamposi Tigo Nagori, langsung menyetor uang jual-beli kepada Maizil selaku kasir di Toko Pagaruyuang Ponsel. Sewaktu menghitung dan memeriksa uang itulah, Maizil mengetahui ada uang palsu yang dicampur dengan uang asli.

“Saat kami hitung, uang palsu itu banyaknya Rp 14,3 juta. Hanya Rp 2,7 juta yang asli. Sedangkan orang yang datang membeli handphone itu sudah pergi. Akhirnya, kami laporkan peristiwa ini kepada polisi,” ujar Yosi Nofioriski yang kemarin siang ikut hadir di Mapolres Payakumbuh, bersama rekannya Jeli Apriosa dan senior mereka, Maizil.

Laporan dari karyawan Toko Pagaruyuang Ponsel ini mendapat attensi khusus dari Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan. Dia memerintahkan Kasat Reskrim AKP M Rosidi bersama Tim Resmob untuk melakukan penyelidikan. Sekaligus melacak jejak pengedar uang palsu dengan motif membeli handphone dalam jumlah banyak tersebut.

Loading...

Hanya butuh waktu kurang dari dua bagi Tim Resmob Polres Payakumbuh untuk menyelidiki kasus ini dan melacak pelakunya. “Masuk laporan pada Jumat malam, pada Minggu pagi, tersangka Muhammad Ali sudah ditangkap di Padangpanjang. Setelah itu, berlanjut dengan penangkapan tersangka Al Alif di Solok,” kata AKBP Dony Setiawan.

Selain menangkap Alif dan Ali, Tim Resmob Polres Payakumbuh juga mengamankan 11 jenis barang-bukti. Mulai dari sepeda motor Honda Beat BA 3491 HI yang digunakan untuk mengedarkan uang palsu, sampai printer merk Epson yang dipakai untuk mencetak uang palsu. Selain itu, pisau cater, kertas HVS warna merah, dan kertas cover paper warna putih yang dipakai untuk membuat uang palsu juga disita.

Bukan itu saja, polisi di Payakumbuh juga menyita uang palsu senilai Rp 25,9 juta. Dengan Rincian, 93 lembar uang pecahan Rp 100 ribu dan 332 lembar uang pecahan Rp 50 ribu. “Dari Rp 25,9 juta uang palsu yang kami sita, sebanyak Rp 11,9 juta disita dari kedua tersangka. Dengan rincian, 65 lembar pecahan 100 ribu dan 108 lembar pecahan 50 ribu.

Kemudian, sebanyak Rp 14 juta disita dari korban. Dengan rincian, 28 lembar pecahan Rp 100 ribu dan 224 lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu,” kata AKBP Dony Setiawan.
Dalam konferensi pers dengan wartawan kemarin siang, AKBP Dony sempat meminta tersangka Alif, untuk memperagakan cara membuat uang palsu tersebut. Rupanya, cara yang digunakan Alif sangat sederhana. Yakni, memfoto copy uang asli menggunakan satu unit printer. Kemudian uang tersebut di-print atau dicetak dengan menggunakan kertas jenis cover paper warna putih. Selanjutnya, dipotong sesuai ukuran uang asli.

“Sebenarnya, uang palsu yang dibuat sindikat ini gampang sekali untuk dibedakan. Dari bentuknya saja, nampak lebih pucat dari uang asli. Tapi, sindikat ini dalam mengedarkan uang palsu cukup licik. Yakni, meletakkan uang asli di bagian atas dan bawah tumpukan uang palsu. Kami berharap, cara membuat dan mengedarkan uang ini tidak ditiru. Dan kepada masyarakat terutama pedagang, kami minta agar teliti saat menghitung uang, kapan perlu gunakan alat sinar laser untuk menghitung uang,” ujar AKBP Dony Setiawan.

Sampai tadi malam, kedua anggota sindikat pembuat dan pencetak uang palsu yang diungkap Polres Payakumbuh, masih terus menjalani pemeriksaan. Menurut Kasat Reskrim Polres Payakumbuh AKP M Rosidi, kedua tersangka akan dijerat dengan Pasal 244 jo pasal 245 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Berdasarkan catatan Padang Ekspres, kasus yang diungkap jajaran Polres Payakumbuh ini kasus pembuatan, kepemilikan, dan peredaran uang palsu pertama di Payakumbuh dan Limapuluh Kota terjadi dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini. Terakhir, kasus peredaran uang palsu pernah diungkap Bhabinkamtibmas Polsek Guguak, Limapuluh Kota di Jorong Jorong Simpang III Kenanga, Nagari Mungka, Kecamatan Mungka, pada Juli 2017 silam.

Enam tahun sebelumnya lagi, tepatnya Maret 2011 Polres Payakumbuh bersama Polres Mandahiling Natal, Sumatera Utara, juga pernah membongkar kasus pencetakan uang palsu. Kala itu, Polres Payakumbuh yang dipimpin AKBP S Erlangga (kini Kombes dan Kabid Humas Polda Jabar) dengan Kasat Reskrim AKP Basrial (kini Kompol dan Kabag Ops Polres Limapuluh Kota) mengamankan tiga dari empat anggota sindikat pembuat uang palsu. Di mana, uang palsu tersebut digunakan untuk membeli ganja di Mandailing Natal.

Sebelumnya lagi, Polres Payakumbuh yang bertetangga dengan Polres Limapuluh Kota juga pernah mengungkap dua kasus percetakan uang palsu. Masing-masing pada Juli 2008 di Kelurahan Padang Tiaka Hilia, Kecamatan Payakumbuh Timur, dan September 2009 Kelurahan Ibuah, Kecamatan Payakumbuh Barat. Meski rentang kasus terkait uang palsu di Luak Limopuluah (Payakumbuh dan Limapuluh Kota) terbilang jauh. Namun, warga agaknya tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Proses teliti, teraba dan terawang, sangat dibutuhkan saat melihat uang, apalagi uang pecahan baru. (*)

Artikel ini sudah tayang di : https://padek.jawapos.com/hukum/28/07/2020/puluhan-juta-uang-palsu-dicetak-di-solok/

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat