Ketum Peseduluran Satu Hati Minta, Kejagung Bersikap Tegas Soal Hasil Sidang Novel Baswedan

Ketum Peseduluran Satu Hati Minta, Kejagung Bersikap Tegas Soal Hasil Sidang Novel Baswedan

13
Novel Baswedan. (ist)

Corpsnews,  Jakarta – Ditengah gaung gotong-royong untuk mempererat dan memperkokoh kebersamaan Bangsa demi melawan “Hantu Pembunuh Massal” Covid-19 oleh pemerintah, tiba-tiba seluruh media di Negeri ini ramai disuguhkan dengan potret yang teramat miris dan merisaukan.

Dimana penegakan hukum terkait kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan (NB), lagi-lagi beraroma pelanggaran asas keadilan dan aturan hukum.

Ketua Umum Perseduluran Satu Hati, Mas Yanto memberikan statement keras. “Terkait hasil Tuntutan dalam persidangan kasus NB, Jaksa Agung harus mengambil sikap tegas dan berani melakukan reformasi total di dalam Lembaga Kejaksaan, mulai dari wilayah Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dengan lima wilayah Kejarinya, terutama Kejari Jakarta Utara,” tegasnya, Minggu (14/6/2020).

Tuntutan JPU Pada hasil sidang kasus NB ini, kata Yanto, memperkeruh suasana. Menginjak-injak asas keadilan dan menumbuhkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum. Sekarang Jaksa Agung harus ambil sikap, tindak tegas semua yang terlibat dalam penetapan keputusan tuntutan persidangan kasus Novel tersebut dari Kejari, Jaksa penuntutnya.

“Jangan karena tuntutan JPU pada persidangan yang tak berlandaskan asas keadilan dari Kejari Jakarta Utara ini, lalu Presiden Jokowi yang diseret-seret, ngak bener mereka itu Lur,” ucapnya.

Yanto memberikan contoh, beberapa kasus yang serupa namun hasilnya jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan kasus NB yang seorang penyidik senior KPK. Dimana secara hukum, segala tindakan yang dilakukan Novel terkait pemberantasan korupsi adalah berdasarkan Undang-Undang.

Negara sebagai sebuah kelembagaan hukum harusnya memberikan nilai dan rasa keadilan yang lebih pantas terhadap kasus Novel, dibandingkan misalnya seorang wanita bernama Rika siram air keras ke suaminya, vonis 12 Tahun (Oktober 2018) atau seorang pria bernama Lamaji siram air keras ke seorang wanita pemandu lagu, yang kemudian divonis 12 Tahun (Maret 2017).

Loading...

“Kok bisa kasus penyiraman air keras kepada seorang penegak hukum sekelas penyidik senior KPK NB, pelakunya hanya divonis 1 Tahun, itu kan sangat aneh,” ungkapnya.

Aneh menurut Yanto dikarenakan JPU Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, dan Kejari Jakarta Utara dan berpendapat sesuai bukti persidangan bahwa pelaku melakukannya dengan tidak sengaja, pelaku sudah minta maaf ke NB dan keluarga.

Paling anehnya, sambung Yanto, adalah penyiraman air keras kepada penyidik KPK NB dianggap bisa menjadi bervonis ringan, karena pelaku melakukannya hanya dengan maksud untuk memberi pelajaran.

“Jika tidak ada perhatian khusus dari Jaksa Agung atas kasus ini, artinya ada yang sengaja melepas bola api untuk menjatuhkan dan ingin mencoreng nilai penegakan hukum pemerintahan Presiden Jokowi. Tegakkan hukum setegak-tegaknya atau Hukum akan mencari jalannya sendiri untuk berdiri tegak. Salam Satu Hati,” kuncinya. (paparazzindo)

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat