SELAMAT DATANG
MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG
Pancasila dan Generasi Milenial

Pancasila dan Generasi Milenial

62

CORPSNEWS, TTU – Pancasila pertama kali diucapkan oleh Ir. Soekarno pada sidang pertama BPUPKI, tanggal 1 juni 1945. Pada dasarnya Ir. Soekarno memaparkan dasar-dasar Indonesia merdeka yang diminta oleh ketua BPUPKI. Setiap negara memiliki dasar sendiri-sendiri demikian juga Indonesia. Selanjutnya Ir. Soekarno mengusulkan kepada forum bahwa dasar Indonesia bagi Indonesia merdeka disebut Pancasila, yaitu:
Kebangsaan (nasionalisme)
Kemanusiaan ((internasionalisme)
Musyawarah, mufakat, perwakilan
Kesejahteraan sosial
Ketuhanan yang berkebudayan (Kaelan, 2004: 25).

Pada sidang panitia sembilan tanggal 22 juni 1945 menghasilkan kesepakatan atau suatu persetujuan yang menurut Ir. Soekarno adalah suatu modus kesepakatan yang dituangkan dalam Hukum Dasar, alinea keempat dalam rumusan dasar negara sebagai berikut:
Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya;
Kemanusiaan yang adil dan beradab;
Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan;
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada sidang pertama PPKI tanggal 18 agustus 1945, yang kala itu PPKI sendiri diketuai oleh Ir. Soekarno mempersilahkan Drs. Moh Hatta sebagai wakil ketua untuk menjelaskan mengenai perubahan di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (hasil rancangan Panitia Kecil) dengan perubahan pada sila pertama yaitu tujuh (7) kata dihilangkan dan diganti dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pada sidang pengesahan UUD 1945 dan pembukaannya, naskah Pancasila yang terdapat dalam bagian pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut:
Ketuhanan Yang Maha Esa
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rumusan Pancasila yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 inilah yang secara konstitusional sah dan benar sebagai dasar negara Republik Indonesia. Walaupun dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia sebagai upaya bangsa Indonesia untuk memperahankan proklamasi dan eksistensi bangsa dan negara Indonesia ternyata ada juga rmusan pancasila lainnya.

Dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) 29 desember 1949-17 agustus 1950 naskah Pancasila kala itu adalah:
Ketuhanan Yang Maha Esa
Peri kemanusiaan
Kebangsaan
Kerakyatan
Keadilan Sosial
Begitupun dalam UUD Sementaar yang berlaku pada tanggal 17 agustus 1950-5 juli 1959 dan juga rumusan Pancasila yang beredar di kalangan masyarakat luas.
Dari berbagai rumusan Pancasila tersebut, yang benar dan sah adalah yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Hal itu juga diperkuat dengan ketetapan No.XX/MPRS/1966, dan Inpres No.12 tanggal 13 april 1968 yang menegaskan bahwa pengucapan, penulisan dan rumusan Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia yang sah dan benar adalah sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.
Lalu bagaimana dengan eksistensi Pancasila di era modern ini bagi generasi milenial?

Tentunya Pancasila saat ini mengalami tantangan yang cukup besar dikarenakan pengaruh globalisasi yang tidak bisa dibendung perkembangannya dan masuk ke Indonesia yang membuat generasi milenial sedikit melupakan sejarah Pancasila dan juga lupa untuk mengimplementasikan nilai-nilai luhur dari Pancasila itu sendiri. Pancasila yang dianggap sebagai falsafah bangsa atau pandangan hidup bagi bangsa Indonesia diharapkan mampu memfilter setiap budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga tidak mempengaruhi budaya asli Indonesia, dengan begitu masyarakat Indonesia lebih khusus generasi emas atau milenial dapat mempelajari sejarah Pancasila dan harus dengan mampu menjalankan nilai-nilai luhur dari Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

Generasi milenial lebih tertarik akan budaya asing serta produk-produk kapitalis yang dengan marak berkembang di negara Indonesia karena lemahnya pengetahuan tentang nilai-nilai Pancasila lebih khusus bagi generasi milenial sehingga mampu memilah budaya asing serta produk kaum kapital yang sesuai dan nilai-nilai Pancasila sehingga bisa diterima di budaya asli Indonesia.

Eksistensinya Pancasila saat ini dipertanyakan, akankah mampu Pancasila berdiri kokoh sebagai dasar negara Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi yang kian hari berkembang dengan pesat. Tentunya pertanyaan ini menjadi pertanyaan reflektif bagi setiap warga negara terlebih bagi generasi milenial, karena perubahan global tidak bisa dihindari apalagi dijauhi oleh bangsa Indonesia sendiri. Saat ini banyak dari generasi milenial tidak mampu melafalkan butir-butir kata dalam Pancasila, melafalkan butir-butir saja tidak mampu apalagi pengetahuan akan sejarah Pancasila dan mampu untuk mengimplementasikan nilai-nilai luhur dari Pancasila.

Jika generasi melenial tidak dibekali dengan pengetahuan Pancasila yang matang maka dengan mudah akan dipengaruhi oleh arus globalisasi dalam hal dunia teknologi dan informasi. Generasi milenial dengan seiring berjalannya waktu mereka termanjakan oleh teknologi, ini bisa mengakibatkan seseorang bisa menjadi kaum “anti sosial” di mana mereka sudah malas berinteraksi dengan orang lain di luar secara langsung, karena sudah merasa cukup melalui media sosial bahkan mereka beranggapan bahwa lebih asik berinteraksi melalui media sosial. Sudah banyak kasus yang terjadi di Indonesia pada seorang yang mengalami dampak seperti ini, saat di media sosial terlihat lebih aktif dan banyak berbicara namun ketika berinteraksi secara langsung akan terlihat lebih diam dan memilih untuk bercengkrama teman-teman onlinenya. Contoh lain dampak negatif dari pengaruh modernisasi yang sangat signifikan terlihat adalah mulai pudarnya rasa cinta Pancasila dan selalu mengamalkan dan menghayatkan Pancasila.

Loading...

Nilai-nilai yang terkandung dalam penghayatan dan pengamalan Pancasila kurang menjadi perhatian yang penting bagi generasi milenial, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dianggap kurang menarik untuk diterapkan, lebih parahnya lagi generasi milenial semakin mengarah kepada paham kebebasan yang sebebas-bebasnya, seolah-olah generasi milenial telah lupa kalau Negara Indonesia memiliki dasar negara yaitu Pancasila.
Pancasila dan generasi milenial diharapkan benar-benar mampu untuk memfilter setiap budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga budaya luar yg diterapkan di Indonesia tidak bertentangan dengan setiap nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila.

Indonesia sedang menghadapi problem yang besar saat ini yaitu pemahaman dan pengamalan Pancasila semakin menurun terutama bagi generasi milenial, karena pasca era Reformasi yang ditandai dengan pencabutan Tap MPR tentang P-4 (Pedoman, pelaksanaan dan pengamalan Pancasila) membuat pancasila tidak lagi tak terkalahkan. Tak ada lagi pembekalan penanaman nilai-nilai pancasila untuk siswa baru di sekolah-sekolah. Mata pelajaran Pancasila digabungkan dalam PKn (Pancasila dan Kewarganegaraan) dan dengan jumlah jam pelajaran yang terbilang singkat, akibatnya nilai-nilai Pancasila tidak tertanam dan diamalkan dengan baik dan benar oleh generasi muda. Peran generasi milenial sangat diharapakan utuk tetap menjaga nilai-nilai luhur dari Pancasila sehingga Pancasila benar-benar kokoh berdiri sebagai dasar negara walaupun banyak tantangan yang menerpanya baik dari internal maupun dari eksternal yang bahkan ingin diganti kedudukannya sebagai dasar negara. Generasi milenial harus mampu untuk tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai Pancasila di tengah perubahan yang kian mengglobal.

Saat ini yang terjadi adalah dunia dihebohkan dengan wabah virus corona tak terkecuali Indonesia yang saat ini pula sudah memakan korban jiwa akibat wabah virus corona ini, tentunya peran serta generasi milenial dalam membantu negara untuk mengatasi dan menghentikan penyebaran wabah ini generasi mileniallah yang menjadi garda terdepan dalam membantu negara menangani wabah ini dengan cara tidak menyebarkan informasi yang hanya aka membuat masyarakat panik dan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat untuk tetap mengikuti protokol dari pemerintah dan selalu berpegang teguh pada dasar negara yaitu Pancasila.
Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa sudah seharusnya nilai-nilai luhur dari Pancasila ditanamkan sejak dini dari setiap individu sehingga permasalahan-permasalahan yang diuraikan di atas dapat dicegah dan nilai dari Pancasila tertanam dalam sanubari setiap insan, tentunya diperlukan kerjasama yang baik antara keluarga dan juga pemerintah dalam menangani masalah yang terjadi saat ini yaitu rendahnya pengetahuan dan pengamalan dari nilai Pancasila terutama bagi generasi milenial, karena generasi milenial lah yang akan melanjutkan tongkat estafet bangsa sudah patut dan selayaknya generasi milenial dibekali tentang pengetahuan dan pengamalan dari nilai-nilai Pancasila yang matang sehingga generasi milenial mampu menjaga dan tetap melestarikan nilai-nilai Pancasila untuk terus melanjutkan amanah dari the founding fathers.

Dari pembahasan di atas penulis menarik sebuah kesimpulan bahwa lemah dan berkurangnya eksistensi Pancasila di karenakan pengetahuan dari generasi milenial yang tidak cukup tentang pengetahuan dan pengamalan dari nilai-nilai Pancasila sehingga mengakibatkan banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia dengan mudah dikonsumsi secara mentah tanpa dipilah mana baik dan mana yang tidak baik oleh masyarakat luas lebih khusus generasi milenial.

Loading...

Oleh karena itu penulis menyarankan agar supaya pendidikan Pancasila harus dimulai sejak dini dari bangku sekolah yang paling rendah hingga jenjang perguruan tinggi dan perlu dilakukan sosialisasi mengenai Pancasila serta sering melakukan event penulisan atau bahkan pidato tentang Pancasila sehingga pengetahuan dan pengamalan dari nilai-nilai Pancasila tidak akan pernah pudar dari setiap individu.
Akhir kata penulis menyampaikan bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, mulai dari diri sendiri dan cobalah untuk memulai karena ketik tidak memulai maka 100% kegagalan ada di tangan kita jika kita berani memulai maka antara gagal dan berhasil masing-masing 50%.

 “??Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945??”

Penulis : Gregorius Bai (Ketua KM3N KEFAMENANU) 

SUMBER // Al marsudi, Subandi, Pancasila dan UUD 45 dalam paradigma reformasi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006
https://www.kompasiana.com

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat