Loading...
Buyback Indosat, Apa kabar Satelit Palapa?

Buyback Indosat, Apa kabar Satelit Palapa?

CORPSNEWS,  JAKARTA – Satelit, secara sederhana merupakan wahana komunikasi mandiri. Ia mampu menerima sinyal dari Bumi dan mentransmisikan atau menyalurkan kembali sinyal. Satelit memanfaatkan gelombang radio untuk mengirimkan sinyal ke antena di Bumi. Antena, menangkap sinyal tersebut dan memproses informasinya. Beragam kepentingan telekomunikasi, dapat dibantu oleh satelit. Satelit berfungsi mendukung kelancaran telekomunikasi telepon. Selebihnya ada ragam fungsi lainnya juga bisa dilakukan oleh satelit seperti pencitraan Bumi dan komunikasi data.

Satelit Palapa A1 merupakan satelit Indonesia pertama. Satelit perdana ini diluncurkan pada 8 Juli 1976 dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat, kemudian dilepas di atas Samudera Hindia pada 83 derajat Bujur Timur (BT).

Terwujudnya peluncuran satelit milik Indonesia bermula dari kehendak Soeharto yang ingin memangkas jarak komunikasi antar daerah di Indonesia yang memang memiliki wilayah yang amat luas demi tercapainya misi pembangunan nasional.

Pemberian nama Palapa pada satelit perdana Indonesia tersebut merupakan nama yang di berikan oleh Presiden Soeharto dengan terinspirasi dari Sumpah Patih Gajah Mada dulu.

“Saya ingat pada sejarah Mahapatih Gajah Mada dulu yang telah bersumpah, tidak akan makan buah Palapa sebelum persatuan dan kesatuan Kerajaan Majapahit menjadi kenyataan,” ucap Presiden Soeharto yang tertulis dalam buku autobiografinya berjudul Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya(1989).

Loading...

Pada tahun 2002, di bawah kepresidenan Megawati Soekarnoputri, pemerintah memutuskan untuk melepas sebagian saham Indosat.

Penjualan Indosat kemudian memicu kegaduhan nasional. Ia menjadi bola liar yang membidik Megawati dan Laksamana Sukardi. Divestasi itu akhirnya menuai gugatan class action yang diajukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 23 April 2003. Materi gugatan ditandatangani 133 orang dengan menggarisbawahi 7 jenis pelanggaran yang terjadi dalam divestasi Indosat. Namun gugatan itu ditolak PN Jakpus dan Pengadilan Tinggi Jakarta.

Dalam debat capres putaran ketiga, Minggu (22/6/2014),  Jokowi mendapat pertanyaan dari calon presiden nomor urut satu, Prabowo Subianto, tentang penjualan Indosat yang dilakukan pada masa pemerintahan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri.
“Apabila Bapak menjadi presiden, apakah akan membeli kembali Indosat atau bagaimana?” tanya Prabowo.
“Ke depan, saya kira kuncinya cuma satu, yaitu kita buyback (Indosat-red). Kita ambil kembali saham itu dan menjadi milik kita lagi. Oleh sebab itu, ke depan, ekonomi kita harus di atas 7 persen,” jawab Jokowi.

Sejarah Satelit Indonesia

Perkembangan sejarah satelit di Indonesia lengkap, mulai dari seri Palapa, Indostar, Telkom, Garuda dan PSN dari awal hingga saat ini.

Sejarah Satelit Indonesia

Sejarah satelit di Indonesia tidak terlepas dari dimulainya peluncuran satelit Palapa A1 dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat, pada 9 Juli 1976.

Loading...

Pada masa tersebut, Indonesia adalah negara pertama di Asia dan negara ketiga di dunia yang mengoperasikan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) menggunakan Satelit GEO setelah Amerika Serikat dan Kanada.

 

Nama PALAPA diberikan Presiden Soeharto untuk satelit tersebut, mengacu pada sumpah Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pada tahun 1334, yang menyatakan tidak akan pensiun dini sebelum nusantara bersatu di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit.

 

Loading...

Palapa A1 menjadi SKSD pertama di Indonesia yang memberikan layanan telepon dan faksimili antar kota di Indonesia. Lalu, SKSD juga berkembang menjadi infrastruktur utama pendistribusian program televisi nasional. Palapa A1 menjadi tonggak sejarah satelit di Indonesia yang kemudian diikuti dengan satelit-satelit berikutnya.

Setelah satelit Palapa hadir dengan beberapa generasinya, Indonesia terus meluncurkan beberapa satelit lainnya seperti Telkom, Cakrawarta, Indostar, Garuda dan PSN. Di Indonesia sendiri setidaknya tercatat ada 5 operator satelit nasional yang memiliki dan mengelola satelitnya sendiri, antara lain: TELKOM, INDOSAT, PSN, MNC dan BRI.

Berikut ini adalah beberapa satelit-satelit komersial yang pernah dan dimiliki Indonesia:

daftar satelit indonesia

 

Palapa-A

Satelit pertama Indonesia ini memiliki spesifikasi yang mirip dengan satelit domestik yang digunakan Kanada dan Amerika Serikat karena dibuat oleh perusahaan yang sama Hughes Aircraft Company dengan model HS-333.

Palapa A memiliki 12 transponder dengan kapasitas setara 6.000 sirkut suara atau 12 saluran televisi warna, memiliki masa aktif hingga 7 tahun dengan tinggi satelit 3.41 meter, diameter 1.9 meter dan berat saat peluncuran sebesar 574 kg.

Area coverage satelit Palapa meliputi Indonesia dan Asia Tenggara — Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Dikendalikan dan dioperasikan oleh PERUMTEL (sekarang TELKOM). Transponder dialokasikan  untuk sistem komunikasi yang digunakan oleh PERUMTEL, siaran TVRI dan juga Kementrian Pertahanan dan Keamanan. Negara ASEAN juga memanfaatkan transponder satelit Palapa A yaitu Filipina, Thailand dan Malaysia.

Palapa-B

Palapa B adalah penerus dari satelit Palapa A, generasi kedua satelit Indonesia yang dibuat oleh perusahaan Hughes Space and Communication Company dengan model HS-376.

Palapa B mempunyai kapasitas yang 2 kali lebih besar dari generasi sebelumnya, memiliki 24 transponder dengan daya listrik 4 kali lipat. Satelit ini memiliki diameter 2.16 meter, tinggi 6.96 meter dan berat sebesar 691.73 kg pada saat peluncuran.

Khusus Palapa-B2, mengalami keagalan pada saat penempatan orbit. Satelit ini kemudian diambil dan diperbaiki oleh Hughes dan diluncurkan kembali dengan nama Palapa B2R. Satelit Palapa B ini juga dikendalikan dan dioperasikan oleh PERUMTEL.

Palapa-C

Satelit ini dibuat oleh perusahaan yang sama dengan 2 generasi satelit sebelumnya, Hughes Space and Communication Company dengan platform HS-601 yang berbeda dengan bentuk satelit sebelumnya.

Palapa-C memiliki 30 transponder C-band dan 4 transponder Ku-band. Dengan area coverage meliputi Indonesia, Asia Tenggara, sebagaian China, India dan Jepang hingga Australia.Berbeda dengan Palapa A dan Palapa B yang dioperasikan oleh PERUMTEL, Palapa C dioperasikan oleh SATELINDO (sekarang INDOSAT)

Loading...

Untuk Palapa-C1 terjadi gangguan pada sistem pengisian dayanya sehingga satelit tidak memiliki tenaga cadangan pada saat musim gerhana (yang terjadi selama 2 kali dalam setahun). Palapa-C2 diluncurkan untuk menggantikan satelit Palapa-C1.

Palapa-D

Palapa-D merupakan satelit pengganti Palapa-C yang ditempatkan di slot orbit 113 BT. Satelit ini dibangun oleh Thales Alenia Space dari Perancis menggunakan platform SpaceBus 4000-B3 yang cukup efesien dan bertenaga.

Palapa-D membawa 35 transponder C-band dan 5 transponder Ku-band dengan coverage area hingga benua Asia, Asean dan seluruh Indonesia,  dengan umur satelit hingga  15 tahun.

Cakrawarta/Indostar

Cakrawarta adalah satelit milik perusahaan PT. Media Citra Indostar (MCI), anak perusahaan MNC Group yang digunakan untuk penyiaran Direct to Home (DTH) Indovision. Satelit Cakrawarta-1/Indostar-1 dikembangkan oleh Orbital Science Corporation yang merupakan basis dari platform STAR Bus pertama dengan desain masa pakai hingga 14 tahun.

Satelit ini merupakan satelit penyiaran DTH pertama di Asia, yang diluncurkan menggunakan roket Ariane dari Kourou, Guyana Prancis, sekaligus menjadi satelit komersial pertama di dunia yang menggunakan frekuensi S-band. Fruekensi S-band ini cocok digunakan di Indonesia yang beriklim tropis dan lebih tahan cuaca daripada fruekensi C-band dan Ku-band.

Pada April 1998, terjadi masalah teknis di satelit Cakrawarta-1 berupa anomali pada regulator daya listrik yang berdampak 2 dari 5 transponder satelit tidak bisa digunakan pada saat memasuki gerhana.

Satelit Indostar-2 digunakan untuk menggantikan satelit Cakrawarta-1/Indostar-1 yang telah habis masa pakainya. Indostar-2 semula bernama Protostar-2 yang kemudian berganti nama setelah MCI membelinya dari Protostar, Ltd. Indostar-2 menggunakan platform 3 aksis BSS-601HP milik Boeing Satellite System dengan kapasitas hingga 10 transponder S-band dengan coverage seluruh Indonesia.

M2A (Multi Media Asia)

PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) sebagai perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia melakukan penandatanganan kontrak dengan Space Sytem/Loral (SS/L) untuk pengadaan sistem satelit M2A menggunakan bus/platform SSL-1300S dengan kemampuan daya listrik 10.4 kilowatt dan masa pakai hingga 12 tahun. Desain antennanya mampu meberikan jangkauan multi-beam untuk wilayah Asia Pasifik, termasuk Australia, India, China, Indochina, Korea, Jepang dan negara Asean.

Dengan estimasi berat  sekitar 1960 kg, kapasitas satelit M2A ekuivalen dengan 84 transponder C-band dengan 200.000 sirkuit simultan, sehingga pada saat itu desain satelit ini merupakan satelit C-band paling kuat dan mumpuni. Satelit ini rencananya akan digunakan untuk sistem telepon, akses data, faksimili, internet dan layanan multimedia.

Sayangnya pada tahun 1997 – 1998 terjadi krisis moneter yang menghantam Indonesia, sehingga berimbas pada proyek satelit ini yang akhirnya dibatalkan untuk selamanya.

Telkom

Karena brand name Palapa telah diambil alih oleh SATELINDO dan lifetime satelit Palapa-B2R akan berakhir, PT. Telkom menunjuk Lockhead Martin Commercial Space Systems (LMCSS) untuk mebangun satelit pengganti Palapa-B2R dengan nama Telkom-1 menggunakan platform A2100A.

Telkom-1 memiliki 24 transponder C-band dan 12 transponder extended C-band yang digunakan untuk aplikasi telekomunikasi, termasuk trafik digital kecepatan tinggi untuk VSAT. Memiliki coverage yang luas dengan jangkauan seluruh Indonesia, sebagian Asia Tenggara dan Australia Utara.

Meskipun diperkirakan masih dapat beroperasi hingga 2020, pada Agustus 2017 lalu satelit Telkom-1 mengalami anomali dan kegagalan sistem yang berimbas pada terganggunya siaran televisi, ribuan koneksi ATM Bank dan VSAT di seluruh Indonesia. Rencanaya satelit Telkom-4 akan diluncurkan pada 2018 untuk menggantikan satelit Telkom-1 ini.

Telkom-2 dibuat oleh Orbital Sciences dengan platform Star-2 dan diluncurkan dengan roket Ariane-5 pada November 2005 merupakan satelit pengganti untuk Palapa-B4. Memiliki kapasitas 24 transponder C-band dengan rancangan masa aktif hingga 15 tahun.

Telkom-3 adalah satelit Telkom yang gagal mencapai orbitnya, satelit ini dibuat oleh JSC Information Satellite System Academician M.F. Reshetnev dengan platform Ekspress-1000N, dengan 32 transponder C-band dan 10 transponder Ku-band dan rancangan masa aktif hingga 15 tahun.

Telkom-3S merupakan satelit pengganti Telkom-3 yang dibuat oleh Thales Alenia Space menggunakan platform generasi baru Spacebus-400B2 dengan 24 transponder C-band, 8 transponder extended C-band dan 10 transponder Ku-band. Satelit ini memiliki coverage Indonesia dan Asia Tenggara, diluncurkan pada 2017 lalu dengan menggunakan roket Arianespace.

Space System Loral (SSL) dipilih Telkom untuk membuat Telkom-4/Satelit Merah Putih yang diproyeksikan sebagai pengganti satelit Telkom-1, menggunakan platform SSL-1300 dengan kapasitas besar 60 transponder C-band dan masa aktif hingga 15 tahun.

Garuda

Satelit Garuda-1 merupakan satelit pertama yang digunakan untuk pasar komunikasi telepon bergerak di Asia. Satelit ini dimiliki oleh Asia Cellular Satellite (ACeS yang merupakan gabungan dari Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Lockheed Martin Global Telecommunications (LMGT), Philippines Long Distance Telephone Company (PLDT) dan Jasmine International Overseas Company Ltd.

Menggunakan platform A2100AXX dari Lockheed Martin Commercial Space Systems (LMCSS), Garuda-1 merupakan salah satu satelit telekomunikasi paling kuat yang pernah dilucurkan, Beroperasi pada frekuensi L-band via 140 spotbeam yang melingkupi seluruh Asia, menawarkan layanan telepon bergerak berbasis satelit.

Garuda-2 semula dimaksudkan sebagai back-up untuk satelit Garuda-1, kemudian diproyeksikan untuk memperluas coverage ke Asia Tengah, Asia Barat Timur TEngah, Eropa dan Afrika Utara, namun akhirnya proyek ini kemudian dibatalkan dan tidak diteruskan.

BRISat

BRISat merupakan satelit milik Bank Rakyat Indonesia (BRI), dibuat oleh SSL dengan menggunakan platform SSL 1300. Memiliki kapasitas 36 transponder C-band dan 9 transponder Ku-band, berhasil diluncurkan pada 19 Juni 2016 menggunakan Ariane V dari Guyana Perancis. BRI menjadi bank pertama di dunia yang memiliki dan mengoperasikan satelitnya sendiri untuk mendukung usaha perbankannya.

PSN VI/Nusantara Satu

satelit nusantara satu

PSN-VI atau Nusantara Satu adalah satelit milik PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) yang akan beroperasi di slot orbit 146 BT, dibangun oleh SSL dan diluncurkan pada 22 February 2019 menggunakan Falcon-9 milik Space-X.

Nusantara Satu adalah satelit broadband internet pertama Indonesia dengan teknologi High Throughput Satellite (HTS), memiliki bandwidth yang besar dengan jumlah transponder 26 C-band, 12 Ext C-band dan 8 Ku-band spot beams, dengan total bandwidth hingga 15 Gbps, menjadikannya sebagai satelit dengan kapasitas terbesar di Indonesia untuk saat ini.

Satelit LAPAN dan INSPIRE

Selain satelit-satelit komersial tersebut, Indonesia melalui Program Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga telah membuat dan meluncurkan beberapa satelit antara lain:

  1. INASAT-1 (Indonesia Nano Satelit-1), satelit nano yang beratnya sekitar 10 – 15 kg dan menggunakan frekuensi VHF/UHF. INASAT-1 adalah satelit karya anak bangsa pertama yang dirancang bersama oleh PT. Dirgantara Indonesia dan LAPAN pada tahun 2006, dengan kemampuan orbit hingga 6 – 12 bulan.
  2. LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, satelit mikro yang dibuat pada tahun 2007 dengan berat sekitar 57 kg dan digunakan untuk penginderaan situasi bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir dan lain-lain.
  3. LAPAN-A2/LAPAN ORARI, mulai dibangun pada tahun 2008, didesain guna mendukung penanganan bumi, monitoring lalu-lintas kapal laut dan komunikasi radio amatir. Satelit ini dilepas oleh Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 3 September 2015 untuk  dikirim ke India dan diluncurkan dari sana.
  4. LAPAN-A3/LAPAN IPB, diluncurkan pada 31 Mei 2016 yang digunakan untuk memantau lahan pertanian dan pemantauan maritim.

Selain LAPAN juga terdapat konsorsium INSPIRE (Indonesia Nano Satellite Program for Research and Education) yang mengembangkan proyek satelit nano Indonesian Inter University Satellite – 1 (IiNUSAT-1) dan berhasil diluncurkan pada tahun 2012.

Terbaru Channel Satelit Telkom 4 Terbaru 2020.Telkom 4 yang belum lama mengorbit ini diisi oleh beberapa stasiun televisi Indonesia.

Seperti diantaranya Trans Corp yaitu Trans 7, Trans TV, dan CNN, TVRI daerah seperti Papua, Kalimantan dan sebagainya, ANTV dan masih banyak lagi.

Namun, baru-baru ini slot kosong itu diisi oleh stasiun televisi yang sebelumnya ada di Palapa D. Tidak sedikit channel Palapa D yang migrasi ke Telkom 4.

Akan tetapi, masalahnya channel Satelit Telkom 4 terbaru itu tidak diumumkan kepada publik atau secara sembunyi-sembunyi. Mungkin alasannya baru uji coba.

Memang seperti kita ketahui bahwa satelit Palapa D usianya sudah sangat lama, sehingga perlu diganti atau pensiun.

Sebagai penggantinya, maka membuat satelit Nusantara Dua atau nama lainnya adalah Satelit Palapa-N1 Indonesia.

Peluncuran satelit Palapa-N1 itu dilakukan Kamis (9/4/2020) di Provinsi Sichuan, China. Namun sayang Palapa-N1 gagal mengorbit damn akhirnya jatuh di laut.

Satelit Nusantara Dua atau Palapa-N1 sebagai pengganti Palapa D ini diproyeksikan akan mengorbit pada 113 derajat BT (Bujur Timur).

Palapa D memiliki waktu sebentar lagi, maka sebagai salah satu langkah atau solusi sebelum satelit yang baru mengorbit, tidak sedikit yang melakukabn uji coba ke Telkom 4.

Daftar Channel di Telkom 4 Terbaru 2020
Ada beberapa channel satelit Telkom 4 terbaru yang hasil dari migrasi Palapa D. Berikut ini daftarnya yang HR Online rangkum dari Lyngsat.

SCTV MPEG 4 SD dengan frekuensi 3720 H 32727 dan 4020 V 32727

Indosiar MPEG 4 SD dengan frekuensi 3720 H 32727 dan 4020 V 32727

Kompas TV MPEG 4 HD dengan frekuensi 3720 H 32727 dan 4020 V 32727

TV One MPEG 4 SD dengan frekuensi 3719 H 32728 dan 4020 V 32727

Nusantara TV MPEG 4 HD dengan frekuensi 3720 H 32727 dan 4020 V 32727

Channel satelit Telkom 4 terbaru yang merupakan migrasi dari Palapa D masih dalam tahap uji coba. Karena, di satelit aslinya juga pengguna masih bisa memperoleh siaran tersebut

Referensi
Satelit untuk anak bangsa – ASSI
https://id.wikipedia.org/wiki/Satelit.
Ubiqu.com, Suararakyat.com, Tirto.id

 

Loading...
Loading...
Loading...
Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat