CORPS NEWS

FAKTUAL DAN BERIMBANG

SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG

Malika Dwi Ana : Nasehat KH Idham Chalid Kepada Nahdliyyin

Corpsnews — Konon sejarah merupakan siklus yang selalu berulang. Waktunya tergantung, bisa sehari dua hari, bisa sebulan, setahun, bisa puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Apa yang pernah dinasehatkan oleh KH Idham Chalid pada KH Hasyim Muzadi dkk karena latar belakang sejarah yang suram dan menyakitkan.

Adapun nasehat KH Idham Chalid pada KH Hasyim Muzadi dkk yang saya kutip dari guru saya :

Diawal orde baru KH Hasyim Muzadi serta aktivis – aktivis PMII lainnya menemui KH Idham Chalid, mengajaknya menuntut demokratisasi pada rezim Soeharto. Pada pertemuan itu KH Idham Chalid malah memberikan nasehat sekaligus mengungkapkan kekhawatiran pada Hasyim Muzadi dkk.

“Kita baru saja selesaikan komunis, sisanya masih panjang. Jangan diminta demokrasi pada saat yang sama. Nanti demokrasi ada waktunya sendiri. Allah menyelematkan satu persatu tidak sekaligus, demikian menurut Imam Athoilah ( pengarang kitab Fushusul Hikam ). Biarkan pak Harto berkuasa. Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Yang saya khawatirkan justru puluhan tahun yang akan datang kita akan menghadapi kemunafikan, dan saya takut NU tidak mampu menghadapinya karena racun terasa madu. ”

Kekhawatiran kyai besar yang terkenal penuh kewaskitaan ini menarik untuk direnungi kaum Nahdliyyin : APAKAH TELAH TERBUKTI SEKARANG ?

Sebagaimana kita tahu, bangsa Indonesia ini tidak mengenal demokrasi alias voting-votingan, memory collective nya dipenuhi kisah raja-raja, dan dewa-dewi. Sehingga saat dipaksa mengadopsi memory collective bangsa Amerika soal demokrasi, susah sekali pengaplikasiannya, sehingga jatuhnya ya demokrasi seliberal-beralnya, demokrasi sebebas-bebasnya, demokrasi sakkarepku dhewe.

Bagaimana mau bicara demokrasi dengan kelaparan merongrong sudut perut kebanyakan rakyat Indonesia? Bagaimana bicara demokrasi saat kemiskinan mental spiritual menyeruak dari langit-langit kesadaran para pejabat pemangku kekuasaan? Mereka miskin secara mental maupun spiritual, sehingga tidak pernah merasa cukup. Sehingga apapun dimakannya, bal geduwal embuh srandal, embuh bantal, embuh suwal, embuh kadal, embuh aspal, kabeh diuntal…layaknya bangsa Kurawasa alias Kurawa dalam pewayangan. Yang artinya serakah tak ada habisnya.

Jika dilihat dari perspektif wayang, demokrasi adalah kenegarawanan, artinya Demokrasi adalah rumah yang ditempati oleh para Kurawa. Dalam Demokrasi ada ke-sudra-an, kemiskinan, ada pratingkah dan tingkah Sudra, rendah nya “taste of exellence”, rendah etika dan moralnya dan selalu gaduh, karena keputusan diambil oleh Kora, yang artinya 100 orang, selalu rame, gaduh riuh dan berisik. Demokrasi adalah Kurawa. Dan kegaduhan demi kegaduhan tak ada habisnya sengaja disulut dan diramaikan…entah sampai kapan.

Loading...

Tujuannya untuk apa?

Kopi_kir sendirilah!

Terbitkan Pada: 23 Februari 2020 by Corps News

BAGIKAN :
Share
Loading...
Loading...
Loading...
SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat