SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG
Malika Dwi Ana : Kampanye “NO HIJAB DAY”

Malika Dwi Ana : Kampanye “NO HIJAB DAY”

CORPSNEWS — Kampanye “No Hijab Day” oleh Muslim Nusantara dengan menggunakan gambar-gambar perempuan bertelanjang bahu itu maksudnya apa ya? Apakah karena alasan budaya, terus yang pake jilbab harus lepas semua jilbabnya? Gak ngerti saya jalan pikirannya, budaya yang mana, budaya yang seperti apa?

Ohh iya, tentu saja dalih yang dipakai bahwa itu adalah pakaian adat Nusantara yang harus dilestarikan. Untuk itu dikampanyekan dehijabisasi. Pendapat yang kurang tepat menganggap hijab bukan pakaian Nusantara, sementara kebaya, dan kemben itu pakaian Nusantara. Harap diketahui bahwa kebaya adalah pakaian yang ditemukan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menggantikan pakaian Eropa yang ngga cocok di iklim tropis. Dan bentuk kebaya moderen sekarang adalah hasil akulturasi budaya Tionghoa pada budaya Jawa, sehingga posisi kebaya dan jilbab adalah sama, sebagai hasil akulturasi kebudayaan. Sama-sama bisa dan boleh digunakan sebagai identitas kebangsaan Indonesia.

Dalam sistem nilai, hijab itu memiliki nilai kesantunan (moral dan etika), sama sekali tidak ada yang keliru jika perempuan memutuskan berhijab, bahkan hal tersebut memberikan nilai tambah pada sebuah masyarakat, memperkaya pandangan tentang kesantunan.

Hijab dalam Islam itu fungsi dan perannya hampir sama atau mungkin saja sama dengan kerudung untuk suster Katolik. Ada rasa “kesucian” dan “terlindungi” dalam pemakaiannya, jadi tidaklah mungkin hijab atau tudung kepala itu dilepaskan pada konteks yang demikian. Jika umat Islam disuruh lepas jilbab maka analoginya seluruh suster Katolik harus buka kerudungnya juga, kan jadi salah kaprah to… Jilbab dan kerudung kepala itu memiliki peran dan fungsi yang sama.

Yang menjadi sangat keliru adalah ketika seseorang dan sebuah masyarakat melihat orang yang tidak berhijab tidak punya kesantunan, melihat tidak berhijab sebagai kecabulan, kemudian menginginkan dan memaksa orang untuk berhijab di luar lingkup diri dan masyarakatnya sendiri.

Saya gak paham dengan ide dan gagasan kontradiktif. Kalau mau kebaya, kemben dan konde atau pakaian adat, rok mini atau bikini ya juga tidak apa-apa, hanya saja gagasan yang mendasari itu pastilah gagasan yang humanis juga. Jika demikian, maka tidak akan ada pertentangan sama sekali. Tapi ini bahasanya provokatif, seperti sengaja asal bertentangan dan sengaja memancing permusuhan. Kemarin-kemarin menggalang opini untuk menentang jilbab, apakah kemudian akan kalian lanjutkan dengan menggalang opini bahwa perempuan muslim boleh memilih bagian mana saja dari tubuhnya yang mau dipamerin untuk umum ?? Punggung? Dada? Toket? Pantat? Paha ato pusar?

Kaum (sok) liberal setengah matang berkoar-koar soal kebebasan berpakaian atas dasar diktum “tubuhku otoritasku”, tetapi disaat yang sama kelewat sinis terhadap mereka yang menutupi dirinya dengan berhijab, dan bercadar atau berniqab. Padahal kalau ditelisik dengan adil, baik mereka yang menutup tubuh secara maksimal maupun mereka yang menutup tubuh sangat minimal sama-sama mempunyai implikasi sosial. Ngakunya muslim Nusantara, alih-alih demi melestarikan budaya dan nasionalisme. Padahal itu proyek Liberalisme. Karena nasionalisme itu adalah merangkul semua, semua budaya adalah identitas yang sejajar.

Btw, kampanye No Hijab Day ini kok ya serba nanggung sih. Gak sekalian mengalang opini untuk keluar atau murtad gitu dari Islam?! Biar afdol kapirnya, jadi gak perlu lagi nyinyirin jilbab atau pusing mikirin besok mau hantam orang Islam pakai isu apa lagi.[MDA]

Loading...
BAGIKAN :
Share
Loading...
Loading...
Loading...
SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat