CORPS NEWS

FAKTUAL DAN BERIMBANG

SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG

Ironi Musala Gubuk di Flores

NTT – Siapa yang tak terenyuh melihat kondisi musala Nurhidayah. Hanya berukuran 5×5 meter, musala ini masih beralaskan tanah. Seluruh isi bangunan musala terbuat dari bambu dan tanpa penerangan listrik.

Bedug yang tergantung di depan menjadi pembeda antara musala dengan hunian sederhana dari warga sekitar.

Musala Nurhidayah berada di Dusun Kondeng Desa Wae Wako Kecamatan Lembor, salah satu daerah terpencil berjarak 102 kilometer dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat Flores, Nusa Tenggara Timur.

Loading...

Meski begitu sederhana, namun warga kampung Kondeng sangat menjunjung tinggi musala Nurhidayah. Ini satu-satunya tempat sembahyang bagi 59 jemaah dari 18 Kepala Keluarga (KK) muslim Kondeng.

Pada hari raya Idul Adha 1440 H, ahad kemarin, musala kecil ini disesaki oleh puluhan jemaah, sehingga sebagian umat bersalat di bagian luar di tanah berumput.

Loading...

Sumardi, tokoh muslim asal Dusun Kondeng mengatakan, musala ini dibangun pada 2007, secara swadaya. Kala itu, jumlah jemaah muslim di kampung Kondeng hanya 10 KK.

Sebelum musala ini berdiri, umat muslim di Desa Wae Wako menggunakan masjid di kampung Pandang berarak sekitar enam kilometer dari kampung Kondeng.

Karena jarak terlalu jauh, warga tiga kampung, yakni Lunti, Pampa,Kondeng, dan Kedi yang perbatasan dengan Desa Poco Dedeng, pemekaran Desa Wae Wako, masing-masing membangun musala.

Loading...

Kehidupan harmoni antarumat muslim kampung Kondeng, dengan warga pemeluk Nasrani yang jumlahnya lebih banyak tidak terlepas dari hubungan darah yang terbawa hingga sekarang.

“Islam di sana adalah islam asli Manggarai, Islam suku Kondeng. Ibu saya asli dari Kondeng,” kata Sumardi, dihubungi Senin malam, 12 Agustus 2019.

Sumardi yang merupakan Kepala Desa Siru, mengaku mengirim dua ekor kambing bagi jemaah Kondeng pada hari raya Idul Adha. Daging kurban juga dibagikan untuk saudara mereka yang non muslim.

“Ada satu sapi dan dua kambing. Penerima kurban di Desa Wae Wako, tersebar di kalangan muslim dan Katolik,” katanya.

Dijelaskan Sumardi, menuju Desa Wae Wako tidaklah gampang melawati medan yang buruk.

“Dari Desa Siru ke sana itu sekitar satu jam, jalan jelek sekali. Kalau musim hujan, kendaraan tidak bisa masuk,” tuturnya.

Untuk bersekolah, kata dia, anak-anak dari kampung Kondeng berjalan kaki sejauh lima kilometer ke MIS atau SDK Pampa.

Butuh bantuan

Baru-baru ini, bersama tokoh muslim Desa Wae Wako menggagas rencana perbaikan musala Nurhidayah. Foto musala tersebut diunggah di media sosial seperti Facebook dan disebarkan di jejaring grup WhatsApp.

“Foto-foto musala diunggah di media sosial. Respons luar biasa. Sudah mulai ada bantuan uang, walaupun tidak seberapa,” kata Muhammad Husain, anggota panitia renovasi musala Nurhidayah.

Dalam desain panitia, musala Nurhidayah akan dibangun lebih besar, yakni 6x6m setengah tembok lantai semen.

“Kita sedang buat proposal ke mana-mana, intinya minta uluran tangan menggantikan musala yang sekarang. Jika, tidak ada halangan, kita berharap tahun depan (2020) paling lambat musala sudah jadi,” ujarnya. (Viva)

Terbitkan Pada: 13 Agustus 2019 by Corps News

3 thoughts on “Ironi Musala Gubuk di Flores

  1. Loading...
    Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Loading...
TERIMA KASIH
TELAH MENGUNJUNGI CORPSNEWS
MEDIA FAKTUAL DAN BERIMBANG
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat