CORPS NEWS

FAKTUAL DAN BERIMBANG

SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG

Permintaan Besek Melonjak hingga 300 Persen

BAGIKAN :
MAJALENGKA – Permintaan pasar akan besek atau dikenal juga dengan sebutan pipitik meningkat hingga lebih dari 300 persen sejak bulan lalu. Permintaan ini datang kepada bandar besek di Pasar Anyaman Rajagaluh, Kecamatan Rajagaluh, dan bandar di Desa Heuleut, Kecamatan Leuwimunding.

Bahkan pesanan besek atau yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan kempluk ini datang dari berbagai wilayah namun tidak bisa dipenuhi seluruhnya karena minimnya perajin kempluk di daerah. Ini karena sebelumnya kempluk dihargai murah sehingga pembuatannya hanya menjadi sampingan dari pekerjaan para petani.

Menurut keterangan sejumlah pedagang seperti disampaikan Anas (33), Kasma (75), dan Keye (65), pesanan kempluk datang hampir setiap hari dari berbagai daerah seperti Jakarta dan Bandung serta Indramayu. Permintaan tiba-tiba naik sejak sebulan yang lalu hingga beratus kali lipat karena adanya informasi plastik dianggap tidak ramah lingkungan sehingga kembali ke bambu. Sayangnya permintaan pasar tidak sebanding dengan barang yang diproduksi.

Anas mengaku perngiriman barang lebih banyak ke Bandung ke Pasir Koja. Minggu ini dia barus aja mengirim barang sebanyak 20.000. Minggu ini ada pesanan dari DKI Jakarta melalui temannya, hanya belum bisa dipenuhi saluruhnya. “Saya sekarang sedang berusaha mengumpulkan barang dari beberapa pedagang lain agar pesanan bisa dipenuhi. Biar laba sedikit asal barang cepat laku,” ungkap Anas.

Loading...

Keye, pemilik kios barang anyaman di Pasar Anyaman Rajagaluh Lor mengatakan suplai ke pasar kini kurang karena perajin kurang. “Saya juga akan mengirim ke Indramayu dan Jakarta masih kurang, karenanya pengiriman ditambah boboko (bakul) dan hihid (kipas) yang penting mobil penuh,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Kasma pengepul di Desa Heuleut, menurutnya setiap hari pemesan barang berdatangan atau melalui sambungan telpon. Seorang konsumen ada yang memesan barang beragam ukuran paling sedikit 1.000 hingga 6.000 pasang. Malah ada yang minta hingga 15.000 pasang.

Loading...

Kasma menampung seluruh barang dari para perajin, hasil pengumpulannya di beli oleh para pedagang lain untuk dikirim ke berbagai daerah. Ada juga yang pembeli langsung dari Bandung dan Bekasi.

“Saya sudah berusaha menaikan harga kepada para perajin untuk memenuhi permintaan pasar, tapi ya susah mereka sekarang sedang ke sawah, ada yang panen ada yang mulai tanam lagi,” kata kasma.

Ada empat ukuran besek atau kempluk yang dijual Kasma, untuk ukuran 18 cm di jual seharga Rp 7500  isi 5 pasang atau istilah perajin saguruntul, sedangkan dia membeli dari perajin seharga Rp 6.500 per lima pasang, untuk ukuran 16 cm dijual seharga Rp 6000 per lima pasang, ukuran ukuran 14 cm dijual seharga Rp 4.500 per lima pasang dan ukuran 10 cm dijual seharga Rp  3.500 per lima pasang.

Loading...

Pangaos tos ditaekeun tiap guruntulna Rp 1.000 supados nu nganyam karerersaeun ngadamel, tapi da usum ka sawah janten angger we produksina sakitu,” ungkap Kasma yang tinggal di Blok Kilalawang, RT 01/06, Desa Heuleut, Kecamatan Leuwimunding.

Menurutnya penjualan yang paling laku untuk saat ini adalah ukuran 16 cm dan 14 cm yang katanya untuk wadah daging kurban. Anas berpendapat, minimnya perajin ini akibat harga barang yang terlalu murah serta barang bambu tergerus oleh barang plastik. Barang plastik lebih mudah didapat dan dianggap bisa lebih bersih dipergunakan.

Dulu menurut Fatimah dan Fatonah, perajin anyaman di sana, besek digunakan untuk wadah nasi ketika hajatan baik perayaan nikah, sunatan ataupun hajat orang meninggal 7 harian dan peringatan 40 hari,  biasa menggunakan tipluk sebagai tempat nasi dan lauk pauknya. Demikian juga untuk wadah bumbu dapur.“Sekarang semua menggunakan plastik,” kata Fatimah.

Menurut mereka menjadi perajin anyaman juga tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Makanya membuat anyaman hanya pekerjaan sampingan yang dikerjakan setelah pulang dari sawah atau saat malam hari usai salat Magrib dan Isa. “Kalau ke sawah setengah hari upah perempuan bisa Rp 50.000, kalau nganyam paling Rp 10.000,” ungkapnya.

Disampaikan Kasma, Fatimah dan Fatonah serta pedagang lainnya, bahan baku mambu tali masih mudah diperoleh di Pasar Rajagaluh, malah bisa membeli di tetangga yang menyediakan mambu. Hanya saja harganya malah dan pembuatannya lama.

“Satu bambu tali harganya Rp 10.000, satu bambu paling diperoleh hanya  5 guruntul besek dengan harga jual masing-masing Rp 4.500. Jadi upah kerja dan laba hanya sekitar Rp 12.500. Sehari walaupun khusus mengerjakan belum tentu bisa memperoleh 10 guruntul, karena ada proses ngahua, membuang hinis babu,” ungkap Kasma.

Eskpor ke Singapura

Kasma mengatakan sebetulnya pesanan kempluk ini tidak hanya datang dari pasar regional, namun juga dari Singapuran dan Belanda. Kedua negara tersebut pernah melakukan ekspor selama kurang lebih lima tahun terakhir dilakukan 2008.

Pengiriman barang dilakukan setiap 3 bulan sekali hingga akhirnya dihentikan oleh pemesan karena kecewa dengan kualitas barang yang semakin turun. “Dulu itu kan barangnya harus benar-benar bagus, ada pembakaran dan bambu juga halus. Belakangan karena pesanan banyak, akhirnya untuk mengejar target kualitas barang di turunkan, namun akhirnya berhenti dengan alasan barang kurang sesuai,” ungkap Kasma.

Dia tidak mengetahui untuk apa penggunaanya. Hanya bagi pasar Bandung diantaranya dimanfaatkan untuk tempat makanan, tempat anak burung, dan telur semut bagi pecinta burung atau penggemar mancing. “Ayeuna aya nu mesen 200 guruntul nembe kacumponan 100 guruntul,” ungkap Kasma.

Di Kecamatan Leuwimunding, Kecamatan Rajagaluh serta Kecamatan Palasah dan Sindang dan Sindangwangi banyak perajin bambu namun tidak semua perajin membuat besek. Setiap wilayah berbeda-beda. Ada yang membuat bakul, nyiru, ayakan, dingkul, said, dan sebagainya. Pembuat bakulpun untuk soko (kaki terbuat dari bambu) berbeda perajin. Ada yang khusus membuat kaki, ada yang untuk lingkaran nyiru, serta anyaman bakulnya.

“Tiap wilayah beda kerajinannya, kalau kempluk ya dari Desa Heuleut, bakul dari Desa Trajaya, hihid beda lagi,” kata Keye.(Pikiran Rakyat)

Terbitkan Pada: 3 Agustus 2019 by Corps News

BAGIKAN :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Loading...
TERIMA KASIH
TELAH MENGUNJUNGI CORPSNEWS
MEDIA FAKTUAL DAN BERIMBANG
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat