CORPS NEWS

FAKTUAL DAN BERIMBANG

SELAMAT DATANG
DI MEDIA CORPS NEWS
FAKTUAL DAN BERIMBANG

Perkumpulan Mahasiswa, Jawara dan Emak Emak Menolak Rekonsiliasi Pilpres 2019

Jakarta – Poros Mahasiswa Oposisi Pemerintah (MAOP) menggelar confrence pers di jakarta terkait rekonsiliasi pilpres 2019, Poros MAOP meminta kepada Prabowo Subianto untuk tetap berada di garis oposisi sebagai pengawal sistem demokrasi di indonesia.

Pernyataan Sikap terkait penolakan rekonsiliasi di bacakan oleh koordinator Poros MAOP Husnul Kamil aktivis mahasiswa universitas muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Selain itu, acara tersebut juga di hadiri dari delegasi mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun jakarta, universitas Bhayangkara, Universitas Islam 45, Universitas Al Azhar Indonesia, Aliansi Mahasiswa Betawi, Perkumpulan Jawara Jakarta dan Emak Emak Militan.

Dalam pertemuan tersebut, mereka menolak rekonsiliasi atas kontestasi politik 2019, karena mereka menganggap pertemuan Prabowo Subianto dan Presiden Jokowi di MRT Lebak Bulus pada 13 juli 2019 telah melukai hati para relawan dan pendukung setia paslon 02.

Loading...

Husnul Jamil, Koordinator Poros Mahasiswa Oposisi Pemerintah menyampaikan pada awak media ” pemerintahan yang kuat dan berdaulat harus di dukung oleh kelompok oposisi militan, karena kita tidak mengiginkan pemerintahan kita ke blablasan dalam mengambil kebijakan di indonesia tanpa controling dari poros oposisi.

Poros MAOP juga berencana melakukan aksi demontrasi di kediaman Prabowo terkait Rekonsiliasi antara kubu Prabowo Subianto dan Kubu Jokowi. alasan penolakan tersebut didasarkan atas dasar perihal kondisi dinamika geopolitik nasional saat ini.

Loading...

Kita perlu Hadir untuk mengembalikan Gerakan Mahasiswa saat ini yang telah mati suri, suara suara kita sudah jarang terdengar di istana negara, bendera bendera perjuangan sudah tidak berkibar lagi melawan api penindasan.

“Gerakan mahasiswa seolah olah hidup segan mati tak mau. Sistem demokrasi kita yang mandeg, karena demokrasi tidak lagi di artikan sebagai kebebasan dan kemerdekaan dalam menyampaikan pendapat di muka umum, sebab perlawanan atas pemerintahan berpotensi di anggap sebagai makar dan lain-lain”, Ungkapnya.

Kemudian ia juga mengatakan, Pemerintahan Jokowi sangat lemah, para koruptor dan komprador terus menggerogoti negeri ini, anak anak negeri menjerit karena busung dan lapar, perlawanan kita dibatasi oleh undang undang ITE, ruang demokrasi menjadi hampa dan semu tanpa kritik terhadap proses kebijakan yang di ambil.

Loading...

Tak hanya itu, Husnul mengatakan dampak terkait pertemuan Bapak Prabowo Subianto dengan Jokowi membuat rakyat indonesia menangis, kecewa, bahkan ada sebagian relawan ikut membakar baliho dan photo Prabowo dan Sandiaga Uno.

“Rakyat dan mahasiswa menginginkan ada nya poros oposisi yang akan mengawal, mengontrol dan menentang kebijakan Jokowi yang tidak memihak kepada rakyat indonesia. Karena DPR bukan lagi tempat untuk menyampaikan aspirasi, maka jalanan dan perlawanan tempat untuk kita berdiskusi”, Ungkap Husnul.

Terbitkan Pada: 17 Juli 2019 by Corps News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Loading...
TERIMA KASIH
TELAH MENGUNJUNGI CORPSNEWS
MEDIA FAKTUAL DAN BERIMBANG
Open chat
1
Selamat Datang Di Media Online Kami
Untuk Informasi CorpsNew Silahkan Chat